14 Oct 2016

Obat Rindu Kawan Lama

Klopoduwur, dimasa pasukan kumbang menyerang habis seluruh pohon kelapa di desa ini. Berusaha menghilangkan jati dirinya. Hal itu membuatku sedih. Terlebih saat jasadmu ikut - ikutan diserang bala. Sia - sia saja kupaksa kau minum obat.
"Kesembuhan tidak akan menyelamatkan dari kematian", katamu.
"Benar. Semua orang pasti mati. Aku pun begitu, meskipun aku masih muda. Tapi Allah memerintahkan kita untuk berobat, kala kita sakit".
"Aku sudah berobat", ujarmu lagi.
"Obat apa? Obat dari mantri kau buang. Obat daun kumis kucing, daun mangkokan, daun ginseng, kau muntahkan. Obat yang mana?", tanyaku kesal.
"Obat rindu, nduk. Aku rindu kawan lamaku. Ini hanya jasad, tak perlu kau risaukan. Aku yang sebenarnya, sama sekali tidak sakit".
"Minumlah obatnya pak, sekaliiii.....saja", pintaku bersimpuh kepangkuanmu, menyentuh tulang - tulang yang hanya terbungkus kulit. Lima tahun bergulat dengan penyakit, stroke,hernia, batu ginjal, darah tinggi, komplikasi. Kau masih bilang tak sakit. Setiap hari kau menghisap racun sembilan senti.
"Rokok itukah obatmu, pak?", Napasmu tersengal - sengal. Batukmu mirip mengi seekor kucing. Nyaring ditelingaku. Tubuh kurusmu pun terguncang dibuatnya.
"Bukan, rokok hanyalah teman", sambil menahan batukmu.
"Lalu, anakmu ini bukan teman?", menjagamu setiap malam, mengajakmu bercerita, mengingatkanmu agar minum obat, meski tak pernah kau turuti.
"Bukan", aku tercengang. " kau adalah anakku, yang akan meneruskan sisa - sisa hidupku nanti. Menemani emakmu setelah aku pergi".
" Jangan bicara lagi, pak. Napasmu seperti mau hilang, istirahatlah", suaramu sudah tak jelas kudengarkan. Karena mulutmu kaku. Entah makhluk mana yang telah membengkokkan tulang rahangmu. Semua kata yang keluar dari mulutmu terdengar sama. Namun aku mampu menerjemahkan.
" awka lawva", aku lapar. Ucapmu dalam bahasamu. Kau hanya mau makan mi instan. Berkali - kali aku larang, kau pilih selamanya tak makan. Itu yang aku tak mengerti. Makan nasi, tak mampu menelan, kasar, katamu. Makan bubur, kau muntahkan, hambar, kau bilang.
***
Sebelum mulutmu kaku. Makanan kesukaanmu adalah singkong, yang ditumbuk halus, dan padat menjadi gemblong, atau gethuk. Emak sangat rajin bersusah payah membuatnya untukmu. Kau juga menyukai barang - barang antik. Jam dinding besar dan panjang, terbuat dari kayu, setiap berdentang dua belas kali ditengah malam, buluku begidik dibuatnya. Lampu petromak, sepeda ontel Oemar Bakri, kau bilang. Dan geledek - lumbung padi besar - yang sekaligus kau jadikan meja diruang tamumu.
"Aku kangen sedulur - saudara - ku, Soerosentiko. Biasanya kalau bulan suro, ia pasti mengajakku ke peguron adam di Karang Pace. Bersama sedulur sikep - sesama saminis - yang lainnya".
"Ngapain aja dipeguron adam, pak?", tanyaku setengah malas.
"Belajar agama islam, dan membentuk gerakan anti Belanda ". Dahiku mengernyit.
"Dimana dia sekarang?".
"Orangnya sudah mati, berpuluh - puluh tahun yang lalu", bibirku seketika melingkar , " diasingkan di Padang, di Sawahlunto, oleh pemerintahan Belanda kala itu. Mungkin sekarang ada disana makamnya". Katamu, sebelum mulutmu kaku.
"Kok mungkin? Ya pastilah".
"Entahlah, kawan - kawanku sudah pernah ada yang melacak, namun tak ketemu dimana makamnya". Kau pun merenung diatas kursi panjangmu, tanpa menghiraukan aku yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
Anganmu melayang sampai entah kemana, yang tak sengaja menyeretku mengikuti alur cerita di kepalamu. Kau mungkin masih trauma, menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh kaum Belanda putih dan hitam kepada segenap sedulur sikepmu. Kau tak bisa berbuat apa - apa, karena kau tak mau kehilangan sejarah dirimu sendiri. Melahirkan aku, adalah tujuanmu. Menjadikanku buku - buku sejarah yang mencatat setiap jengkal napasmu.
Atau kau sedang menyusun strategi baru, untuk melawan Belanda masa kini. Ah, pasti bukan itu yang kau pikirkan.
Ah, Soerosentiko. Aku yakin kau sedang memikirkannya.
Kau rela membiarkan jasadmu lumpuh, membuang seluruh butir obat yang diberikan mantri.
"Soerosentiko, dulu bapak masih sering main ke Ploso, meskipun ia sudah tiada. Menyaksikan kepergiannya, wajah lemasnya, rantai besi yang mengikatnya, kala serdadu Belanda menyeretnya dan membuangnya, seharusnya bapak bersamanya".
"Menyesal karena tak bisa menolong? Atau menyesal masih hidup?".
"Bukan. Aku sengaja dihidupkan agar aku bisa menorehkan tinta - tinta sejarah kami sepanjang perjalananku. Kaulah yang akan menjadi buku tulisku".
***
Benar. Tinta emas yang kau goreskan dilembaranku, abadi. Sampai penolakanmu meminum obat, pasti karena dia. Kau sekarang tengah merindukannya. Meski obatnya bukan made in Belanda, kau masih membuangnya.
"Kenapa kau berikan barang itu lagi?".
"Apa bapak merindukan kawan lama? Kalau dia masih hidup, pasti dia menyuruhmu minum obat".
"Tapi dia sudah mati. Kau hanya seorang anak yang peduli bapakmu, kau tak mengerti perjuangan seorang kawan, demi menjaga tanah leluhur kita. Kau tak mengerti hutan - hutan jati disepanjang jalan Randublatung itu dulu milik siapa. Kau tak mengerti, atau belum mengerti...".
"Besok mantri mau kesini, pak. Memeriksa kondisi bapak".
"Siapa lagi itu, aku tak butuh dia. Aku hanya butuh istirahat".
"Istirahatlah kalau begitu", namun tetap saja mantri kuminta datang memeriksamu. Kondisimu semakin lemah. Untuk berjalan kau sudah tak mampu. Buang air kecil dan besar ditempat tidurmu. Untuk bangun saja harus kubantu menegakkan punggungmu disandaran kursi. Matamu sudah kabur, adikmu sendiri kau bilang orang lain. Antara emak dan aku hanya beda suara. Aku hanya melakukan yang semestinya, sebagai anakmu.
"Kita cek dulu pak tensinya", mantri mulai memeriksamu. Kau pun terkulai lemas diatas kursi kayu. Seperti pasrah ketika kelopak matamu di paksa membuka, lidahmu dipaksa menjulur meski susah, mulutmu kaku. Ketika dokter hendak memasang selang yang menjadi jalur aliran air senimu, kau memberontak.
"Jangan! Jangan kau lakukan itu. Aku bukan tahananmu, kau tak boleh seenaknya mempermainkan jasadku, pergi kau dari sini". Kau mengamuk sekenamu. Tak ada yang bisa memahami bahasamu. Hanya aku sendiri, menatapmu yang melinangkan air mata. Aku pun terduduk lesu. Mantri harus pergi, ia meninggalkan resep yang harus kau minum setiap hari.
Kau kembali mengerang seperti kesakitan. Kuraih tanganmu yang gemetar, mencairkan bulir keringat yang membatu dihati dan ginjalmu. Soerosentiko, seandainya dia menyaksikanmu saat ini, pasti kau sembuh seketika.
"Soerosentiko sering main kesini nggak, pak?", kupancing pita suaramu yang tenggelam didasar laut hatimu. Umpanku tersangkut.
"Memang disinilah, di Klopoduwur ini, kami memulai pergerakan itu. Pergerakan orang - orang samin untuk melawan kekejaman Belanda putih dan hitam". Belanda hitam, kau menyebut orang pribumi yang rela menyiksa saudara sebangsa sendiri. Menjadi antek penjajah negeri ini. Kau selalu semangat menceritakan tentang dia. Akupun akan setia merekam setiap alur cerita yang kau susun menjadi sebuah film drama yang kuputar di bioskopku sendiri.
"Kami tidak mau membayar pajak, karena ini tanah kami. Warisan dari keturunan pandawa kepada Sunan Kalijaga. Kami membelot dari pemerintah Belanda. Orang - orang seperti Soerosentiko, memelopori perlawanan dengan tanpa kekerasan. Tapi dengan cara pekok, kepada Belanda. Sampai sekarang wong samin masih dibilang pekok, namun kami tetap bangga. Bukan seperti orang - orang yang bilang anti penjajahan, namun membiarkan dirinya terjajah tanpa mereka sadari", ceritamu mengalir bersama hembusan angin sepoi - sepoi yang menyibak - nyibak kain korden kamarmu. Mengiang - ngiang bagai suara igau anak kecil yang minta dibelikan mainan. Aku tetap setia mendengarkanmu, dialam mimpiku.
***
"Nduk, tolong buang kotoran bapakmu", pinta emak dari dapur. Aku masih sibuk menjemur pakaian. Kau mengerang lagi, " hwa, hwa, hwa!!!".
"Sabar , pak. Kalau habis jemurannya". Kau kembali diam.
Setelah habis jemuranku, kuhampiri dirimu terduduk lesu meringkuk diatas kursi panjang sekaligus tempat tidurmu. Pilu. Kuambil sarung penutup tubuhmu, yang bergelimang kotoranmu sendiri. Aku tak pernah jijik, hanya kuhentikan napasku sesaat sampai kubuang kotoranmu.
Kau seperti kedinginan. Terdengar dari suara dan mulutmu yang bergetar. Kubersihkan badanmu, dan kubalut dengan pakaian kesukaanmu. Kemeja putih, dan sarung lurik hadiah dari pakdhe dulu. Kau pun berbaring, berselimutkan kain jarit panjang yang menutupi ujung kaki hingga lehermu.
Lembayung senja mengikis garangnya mentari yang membakar bumi. Sekawanan ayam berebut masuk kekandangnya. Kumandang adzan maghrib pun terdengar di musholla. Kau masih tidur, atau tiduran dengan mata yang selalu terpejam.
"Makan, pak?", tanyaku. Kau hanya menggeleng dan bergumam lirih. Kutinggalkan kau sendiri. Aku akan berdoa semoga kesembuhan jasadmu segera dipenuhi oleh Sang Maha Kuasa.
Pukul sembilan malam, kau masih dalam posisimu. Kau seperti mengigau lirih, aku pun berusaha membangunkanmu. Tapi kau hanya bergumam "hem", aku mengerti. Aku semakin tak kuasa meninggalkanmu. Kubacarakan surat yasin disampingmu. Kuajak kau bercerita, namun kali ini aku yang bicara. Kau pendengar setia, sampai suara jangkrik mengerik memecah keheningan malam, tiba - tiba kau menjawab salam "waalaikum salam". Tak ada yang mengetuk pintu apalagi mengucapkan salam, ah, kau mengigau lagi. Aku pun tertidur disampingmu.
Adzan subuh memanggilku dari dalam mimpi dan membawaku kedunia menatap waktu. Pukul setengah lima pagi. Kulihat wajahmu, terlihat teduh, tenang, tak ada keriput. Dimana keriputmu? . Rahangmu seperti kembali, mulutmu tak menceng lagi. Aku merasa doaku telah dikabulkan. Akupun mencium tanganmu. Dingin, kaku.
Tubuhku terkulai, lemas. Kau telah meminum obat rindu itu, menyusul sahabat karibmu di kehidupan bukan jasad lagi. "Bapaaa...k!!!".
Umi Maghfirotin, lahir 3 mei 1988 di desa Klopoduwur, Banjarejo, Blora. Menamatkan pendidikan dasar di sd Klopoduwur, selanjutnya di Mts Maarif 2 Blora,dan melanjutkan ke MA Raudhotul Ulum Pati, Jawa tengah. Menempuh pendidikan terakhir di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Saat ini aktif mengajar tahfidz al-qur'an yang standnya di rumah sendiri di SumSel, dengan alamat Jl. Palembang - Jambi D2 duaun 4 RT:021 RW:004 Kelurahan Bukit, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin. Mulai suka menulis sejak SMU, sampai sekarang.

12 Oct 2016

Karneih

Musim dingin di kota Kairo. Dengan suhu paling rendah 4 derajat celcius. Puncaknya di bulan Januari. Bersamaan dengan diselenggarakannya ujian termin awal bagi mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo. Dingin, dan kering. Tak ada hujan. Seluruh kulit terasa bersisik ketika diraba. Permukaan bibir akan pecah, koyak dan berdarah, jika tak rajin mengoleskan lip balm atau mosturizer bibir. Jaket kulit tak mampu menjadi tameng penghalang hawa dingin. Minimal tiga lapis pakaian yang harus dikenakan ketika berada diluar rumah.
Pohon - pohon Erythrina caffra, pohon Karang Afrika menyisakan ranting setelah ribuan daunnya berjatuhan disepanjang musim gugur, bunganya yang merah merona membalut setiap ranting tak berdaun diatas ketinggian lima meter. Dibawahnya nampak seorang gadis, tengah memelototi buku diktat tebal dipangkuannya. Hafalan mukorror - buku diktat - terdengar disetiap sudut asrama puteri khusus delegasi.
Nabila, salah satu mahasiswi tingkat tiga, sedang tergesa - gesa untuk berangkat ujian, meski ia sedang terkena hassasiyah - alergi musim dingin - yang menyerang kulit luarnya, menimbulkan rasa panas dan gatal. Pakaian tiga lapis, jaket wol, jilbab lebar, syal, sarung tangan, masker - penutup hidung dari hawa dingin agar tidak kering - kaos kaki, sepatu, harus lengkap tak boleh kurang satupun. Karena di arena terbuka, segala kemungkinan hal tak terduga harus di antisipasi sebelumnya.
Didalam tramco - angkutan umum - sambil menghafal materi - materi ujian, saking fokusnya, sampai tak terdengar teriakan sopirnya.
"Ya anisa!!! Kulliyah dih, nazlah wala la a?", hey, gadis perempuan, ini sudah di kuliah, mau turun apa nggak?. Seru sopir tramco mengejutkan Nabila.
" aywa ya astho, syukron", ya, pak. Terima kasih.
Nabila bergegas turun dan menuju pintu gerbang kampusnya. Ia masih harus berjalan lima puluh meter untuk sampai ke pintu gerbang, diatas trotoar selebar jalan raya. Lalu lalang para mahasisiwi silih berganti, keluar masuk gerbang kuliah. Para pengemis pun bertambah dari hari biasa, berjajar disepanjang dinding pagar. Mereka sering memanfaatkan momen ujian untuk meminta sedekah. Karena mereka tahu, masa ujian adalah puncaknya gairah beramal bagi para mahasiswi. Mereka percaya, bukan hanya lembaran kertas jawaban, yang menentukan kelulusan. Namun ada faktor X dan Y, titik koordinasi antara manusia dan Tuhannya.
Nabila berjalan menaiki sebuah tangga digedung fakultasnya. Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Al Qur'an. Sesekali memberikan salam kepada setiap dosen yang kebetulan berpapasan dengannya.
Didalam ruangan ujian, ia kembali menelaah materi ujiannya, sambil menyiapkan segala keperluan ujian. Pena, penggaris, karneih -kartu ujian.
"Aduh maak!!! Karneih nya lupa. Paspor juga lupa. Nabila...mikirin apa aja semalam, semua jadi lupa".
Ia mempercepat langkahnya untuk segera keluar gedung, pulang ke asrama, dan mengambil kartu ujian. Masih ada waktu seperempat jam, harus bisa terkejar. Karena ujian tidak bisa diikuti jika tidak membawa identitas diri. Kecuali ada saksi. Minimal empat saksi yang harus menyatakan bahwa anak ini adalah mahasiswi disini dan mengikuti ujian di ruangan ini.
GRUDUGG. DAAR!!! Gemuruh di langit Kairo memberikan tanda akan turunnya hujan. Hujan terhitung langka di sini, namun sejak dua tahun terakhir, gerimis sesekali jatuh di kota ini. Nabila terus berlari setengah panik menuju halte. Barisan otobus dan tramco memenuhi depan halte, namun tak satupun yang menuju asrama tempat Nabila tinggal.
"Ya Robbi. Kasihanilah hambamu ini ", pekiknya dalam hati. Langit semakin gelap, awan hitam menjalar dari ujung timur ke barat. Semilir angin musim dingin menggigit tulang - tulang berselimut jaket lusuh yang disapu butir debu di kota Kairo. Bulir - bulir mutiara air yang terbawa angin membentuk goresan diagonal diatas jalan hitam. Hujan.
Air hujannya memang tak sederas hujan di Indonesia. Tapi sangat dingin. Setiap tetesnya membawa buliran debu yang terbang bebas di udara. Tak pelak, setiap pakaian yang terkena tetesannya, pasti membentuk bintik - bintik coklat perpaduan antara air dan debu padang pasir.
Nabila masih berdiri di halte. Sekian nomer telepon temannya yang diasrama dihubungi untuk dimintai pertolongan. Waktu masih sepuluh menit lagi. Tak satupun yang mengangkat telponnya, mendengarkan seruan Nabila meminta pertolongan. Semuanya tengah sibuk dengan mukorror , biasanya handphone dimatikan saat kondisi belajar.
Nabila tak punya pilihan. Ia harus mengambil alternatif sambung kendaraan, dengan menaiki bus jurusan mana saja yang menuju halte wilayah terdekat dengan asrama. Kemudian naik tramco dari wilayah tersebut menuju asrama.
Roda bus seakan begitu lambat jalannya. Berjejal dengan penumpang lain yang tak kebagian tempat duduk, adalah hal paling menyebalkan bagi Nabila. Matanya terus mengarah keluar jendela, seolah ikut memacu kecepatan minibus yang dinaikinya. Sesekali terdengar umpatan - umpatan orang Mesir tentang hujan yang membuat kotor jaket - jaket mahal mereka.
Sampailah Nabila di asrama. Karena lupa menaruh karneih nya dimana, seluruh rak buku di obrak abrik tanpa ampun. Selembar dua lembar buku dibolak baliknya, namun nihil hasilnya.
" Dimana karneih ku?!!!", Nabila menggerutu sendiri, sampai ingatannya pulih kembali.
" jaket hitam. Ya, di jaket hitam", barulah akhirnya ia teringat jaket hitam yang sempat ia gantung di kamar mandi dan lupa mengambilnya. Diliriknya jam tangan. Tiga menit lagi.
"Harus sampai. Harus sampai. Ya Allah, berikan aku kecepatan tinggi", dengan terburu - buru ia menuruni tangga di asrama. Sapaan petugas asrama pun tak digubrisnya. Kali ini ia harus naik taksi, agar lebih cepat sampai di kuliah. Ia tak lagi menghafal materi, hanya doa mohon dipercepat yang selalu dipanjatkan. Sekitar lima belas kilometer, jarak asrama dengan kuliah. Namun, sayang, jalanan macet. Dua orang paruh baya bertengkar ditengah jalan, lantaran tak terima mobilnya diserempet oleh yang satunya. Pihak satpol berusaha melerai mereka. Namun adu mulut seakan tak ada ujungnya. Masih macet.
Selama lima belas menit terjebak diantara deretan mobil - mobil kota. Suara klakson melengking berkali - kali memekikkan telinga. Terbayang dibenak Nabila, lembar soal dengan nomer satu sampai dengan lima. Setiap nomer memiliki anak a, b, c, d, dan e. Setiap anak memiliki karakter berbeda. Anak pertama, minta cerita. Anak kedua sebutkan sampai berapa, anak ketiga bagaimana pendapatmu, anak keempat berikan contoh yang sesuai, sedangkan anak kelima siapa saja tokoh dibaliknya. Ah, kenapa tak sampai juga.
Ia baru sadar, kalau sopir taksi mengambil jalur memutar menuju kuliahnya. Alih - alih cepat sampai, ia malah diajak jalan - jalan mengelilingi jantung kota. Sopir yang curang, mengambil jalur panjang, agar cargonya juga ikut panjang.
" ya astho, kenapa lewat jalur sini? Saya kan minta langsung kekuliah?", tanyanya gusar.
" iya, ini kekuliah. Bentar lagi sampai".
" saya tau jalur ini, saya tidak bodoh. Seperempat jam lagi baru akan sampai ke kuliah, itupun kalau tidak macet. Saya ini ujian, saya terburu - buru. Bapak malah ngajak saya muter - muter. Haram alaik, ya astho". Tidak boleh begitu dong pak.
" maalesy ya sity, sorry sorry, saya akan percepat mobilnya", sopir taksi itu meminta maaf.
Masih dengan menggerutu, Nabila terus berdoa agar diberi kemudahan. Tidak ada jalan pintas, jalur memutar tetap harus ditempuh.
Dua ratus meter lagi menuju pintu gerbang kuliyah. Roda depan mobil taksi bocor. Nabila memilih turun dan lari sekencang kencangnya. Dalam hatinya, ia berdoa, semoga masih diperbolehkan mengikuti ujian. Terlambat hampir satu jam.
"Assalamu alaikum", Nabila mulai memasuki ruangan.
"Waalaikum salam, aywa ya anisa", jawab pengawas ujian.
" maafkan saya, saya terlambat. Tadi saya sudah kesini, tapi lupa membawa karneih. Lalu saya pulang ke asrama, di perjalanan macet, jadi saya terlambat. Bolehkah saya mengikuti ujian?".
Kedua pengawas nampak berbisik - bisik mengisyaratkan sesuatu.
" sebaiknya kamu ke dekan fakultas. Minta izin sama beliau, ceritakan kronologimu, dan setelah mendapatkan izin, baru kesini lagi".
Aku tak pernah berharap seperti ini. Aku sangat payah. Payah.
Dengan langkah gontai, Nabila menemui dekan fakultas. Setelah mengucapkan salam, ia menceritakan seluruh kronologinya, dan nampaknya dekan fakultasnya memahami kondisi Nabila. Bersama dekan, Nabila berjalan menuju ruangan ujian. Nabila dipersilahkan duduk dan mengikuti ujian. Nabila pun tak henti - hentinya mengucapkan terima kasih pada ketiga orang itu. Lega.
***

10 Oct 2016

Bintang Dasri

Bintang itu telah ditakdirkan jatuh. Berkali - kali jatuh, menerjang komet, menyerempet asteroid, menembus ribuan galaksi, hingga berguling di pangkuan ibu yang kusebut bumi. Meluluh lantakkan tatanan isi dada dan perutnya.
Lima tahun aku menunggunya, menunggu bintang itu. Ribuan hari aku menangis siang dan malam, bermunajat dan memanjatkan doa. Akhirnya dia datang, dengan dua sandi bertinta merah diatas tempatku mengadu nasib. Kepayahan, menjadi pesakitan, pingsan, siuman, kehadirannya mengukir bahagia diatas derita sesaat yang ku alami.
Sayangnya, kebahagiaan itu pun tak berlangsung lama. Seratus lima puluh hari, rumahku penuh cahaya bintang itu. Lima bulan, ia kehabisan energi. Sang Pemberi Cahaya memudarkan cahaya putihnya, yang selama ini berkelap kelip di laman monitor rumah sakit. Manusia berbaju putih, menyampaikan berita, bahwa aku tak mampu menerima kehadirannya. Aku terlalu lemah. Ketika dia menyatakan kepergian bintangku, aku seperti mati.
" maaf pak Dasri, isteri anda mengalami pendarahan hebat. Kemungkinan kami harus mengangkat bayinya. Berdoa ya pak".
" tolong, dokter. Lakukan yang terbaik".
Mereka bukan Tuhan, mereka bukan menakdirkan jalan hidupku. Mereka hanya menyampaikan berita atas takdirku. Semua usaha telah dilakukan. Bintangku, buah cintaku, calon bayiku, telah dikeluarkan dan sempat di inkubator beberapa menit. Namun Tuhan memanggilnya sebelum aku sempat melihat, bahkan menciumnya.
***
"Cinta, bangunlah. Sudah jam enam, nggak baik tidur terlalu lama. Cepatlah mandi, nanti kita main kerumah ibu. Rasanya kangen sama beliau", suamiku, tak henti - hentinya mencarikan sarana hiburan untuk sekedar membukakan mataku akan masa depan dan harapan yang masih akan datang. Melupakan kepergian bintangku.
"Sayang, ayolah", suamiku tak akan tahan melihatku yang tak mau berkutik. Tangannya yang lembut tak pernah putus asa menggandeng tanganku yang rapuh menuntunku sampai ke kamar mandi.
Di meja makan, santapan yang paling kusukai, ah, tak selera.
" kemarilah, abang masak mi goreng spesial buat cintaku yang lagi cemberut. Dijamin, langsung jatuh cinta makan mi goreng abang".
" bukan sama mi nya bang, tapi cinta sama yang masak".
" eh, keluar suaranya...".
" maafin Tika bang, belum bisa ngebahagiain abang".
" siapa bilang? Sejak abang merasakan cinta pertama denganmu, abang sudah sangat bahagia. Meminangmu, dan menjadikanmu sebagai isteri, abang teramat bahagia. Sampai sekarang, bisa menemani isteri abang, abang sungguh bahagia. Bahagia itu sederhana, Antika. Bersyukurlah, nanti Allah akan melipatgandakan kebahagiaan kita. Yang sudah ya sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Toh, masih ada kesempatan. Ayo makan ".
Menyembunyikan kesedihan bukanlah hal yang mudah. Apalagi bukan bakatnya. Tapi ia selalu tegar, tepatnya berusaha terlihat tegar dihadapanku.
Kabar bintang pun, melesat dan sampai ketelinga ibuku. Pastilah beliau bersusah hati melihat keadaanku.
" Antika, puteriku. Kau baik - baik saja nak?", ibuku menyambutku dengan pelukan eratnya.
" iya buk, Tika baik kok. Ibuk kok tambah kurus? Ibuk pasti kumat lagi nggak mau makan, ya?", kataku mengalihkan pembicaraan.
" dari dulu ibukmu ini kurus. Ibuk kangen sama kamu. Apalagi, setelah...".
" jangan dipikirkan, buk. Semua kehendak Allah. Semoga Allah memberi kesempatan lagi buat Tika".
Tiga gelas teh disuguhkan diruang tamu. Adikku, Raka menyalamiku.
" katanya Raka sudah kerja, kerja dimana kau?", tanyaku pada adik semata wayangku.
" di toko bangunan, kak. Milik pak de Gani".
" baguslah. Biar ada yang bantu ngasih duit ibuk belanja".
" belanja apa? Uang gaji bapakmu saja sudah cukup. Biar saja disimpan duitnya, buat masa depan", kata ibukku menyela.
" masa depan yang mana buk?", tanya Raka menggoda ibuk.
" ya menikah", jawab ibuk singkat.
" ha ha ha ha", selalu ada canda tawa disetiap kepenatanku, namun hatiku tak kunjung redam. Selalu ada kebahagiaan ketika berkumpul keluarga. Akupun betah berhari - hari disana.
***
Lima tahun kemudian. Kesempatan kedua telah datang, alhamdulillah. Cahaya putih kembali berkelap kelip di laman monitor USG. Tanda kehidupannya semakit kuat, pekat.
Usia kandunganku sudah melewati lima bulan, aku senang bukan kepalang. Sampai tujuh bulan berjalan, bayi dalam kandunganku semakin aktif bergerak. Perutku nampak begitu besar sedikit lonjong, dilihat dari depan. Kata orang tua, biasanya bayinya itu laki - laki.
Menurut dokter, bayi yang lahir usia tujuh bulan bukanlah prematur. Namun, justeru yang lahir usia delapan bulan disebut prematur. Tujuh bulan hampir menginjak delapan bulan, aku terus berdoa semoga bayiku selamat. Kuhantarkan tidur malamku dan bayiku dengan lantunan surat al - waqi' ah yang sudah kuhafal. Semua kejadian telah ditakdirkan, dan tidak dapat diingkari. Kedatangannya tak perlu kita tunggu. Kepergiannya pun tak perlu kita tangisi. Kecuali manusia lemah sepertiku.
Suara adzan subuh memanggilku kembali untuk mengingat Sang Maha Kuasa. Sebenarnya masih terasa berat mataku kubuka, namun tetap kupaksa karena sudah waktunya menghadap kepada Nya. Tak lupa kubangunkan buah hatiku yang tercinta, untuk senantiasa bersyukur atas rahmatNya. Waktu kupegang perutku,
" abaaaaaaa.....ng!!!! Dimana bayiku? Dimana bintangku? Pergi kemana? Aduh abaaaa.....ng!!!", aku menjerit seketika mendapati perutku yang kosong, bayiku hilang. Raib begitu saja, tanpa menyisakan gejala dan tanda - tanda. Ya Allah, ujian apalagi ini ?
Suamiku pun gelagapan layaknya diserang tentara iblis. Berulangkali lafadz istighfar terus meluncur dari mulutnya. Sepertinya, iblis benar - benar datang tadi malam. Menyelinap dan mencuri kebahagiaanku.
"Ya Allah, dosa besar apa yang telah kami perbuat?", ia tak sedikitpun melepas pegangan tangannya diperutku. Tangis kamipun pecah dikeheningan shubuh. Disaat para iblis itu lari terbirit - birit dihantam fajar.
Secepat kilat kabar hilangnya bayi dalam kandunganku menyebar ke seantero bumi nusantara. Menjadi trending topic di jagat maya. Teman - temanku mengatakan, itu karena ilmu hitam. Ada yang menginginkan anak, namun tak mampu, dan akhirnya mengambil jalan haram itu. Manusia biasa tak akan percaya, bahwa ini nyata. Bayiku hilang, entah melewati pintu mana di dalam rahimku. Aku sendiri tak percaya. Ibuku sibuk mengunjungi para kiyai, menanyakan perihal hilangnya bayiku, sampai meminta nasehat bagaimana agar bayiku bisa kembali. Sulit diterima memang. Tapi ini kenyataan.
***
"Aku tidak meminta nasibku menurun pada anak - anakku. Meskipun bukan anak kandung, ibuk selalu menginginkan yang terbaik buatmu, nduk. Jangan berputus asa, kau masih punya kesempatan lagi. Tidak seperti ibumu ini, pengen punya anak harus adopsi".
Ya, aku bukan anak kandung ibuku. Begitu juga adikku, Raka. Dia dipungut dari seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya, dan akhirnya stress kemudian meninggal. Tentu saja, tak setegar waktu kehilangan pertama, ibuku tak kuasa menahan tangisnya didepanku.
" hey...sudah, sudah. Ini kehendak Allah. Kita masih diuji. Kita harus bersabar supaya lulus ujian", bapakku angkat bicara tak kuasa melihat dua bidadarinya berpeluh air mata. Suamiku entah kemana. Adikku, Raka juga termenung disampingku sambil sesekali membujukku agar berhenti menangis.
***
Lima tahun kemudian. Aku tidak ingin kesempatan yang ketiga ini gagal seperti sebelumnya. Setiap minggu aku rajin kontrol, USG pula. Memastikan bahwa bayiku baik - baik saja. Tes tekanan darah, tes urin, tes hemoglobin, semua aku jalani. Berharap bayiku lahir dengan selamat. Setiap hari, setiap malam, semua doa kebaikan kami panjatkan. Mengharap ridhoNya atas semua yang kami lakukan. Sedikit uang belanja yang lebih, selalu kusedekahkan. Semoga menjadi barokah dan khusnul khotimah bagi kami.
Sembilan bulan sepuluh hari, genap sudah aku mengandungnya. Kini tibalah saat paling mendebarkan, antara cemas dan bahagia. Kata dokter, aku tak bisa melahirkan secara normal, bayiku terlilit tali pusar dilehernya. Tak apa, yang penting bayiku bisa lahir dengan selamat.
Segenap keluargaku, bapak, ibuk, adik, mertua, dan yang pasti suamiku tercinta berkumpul sambil berdoa diluar, melepaskan tanganku dan berpesan agar aku tetap tenang. Memasuki ruangan berbola lampu besar ini, aku seperti hendak mati. Para dokter itu terlihat tenang, apa yang mereka pikirkan saat hendak mencincang seorang perempuan. Setiap kali aku begidik bertemu lagi dengan pisau dan gunting yang tajam itu. Beberapa saat aku merasa hilang, cairan bius merasuki pembuluh darahku. Tidur atau mati.
" bagaimana dok?", suamiku paling cepat bertanya, dokter pertama keluar dari ruang operasi.
" alhamdulillah, bayinya laki - laki. Sekarang masih di inkubator. Selamat ya pak Dasri".
" alhamdulillaaaaaaaah".
Beberapa jam kemudian, aku sudah siuman. Mendapati semua anggota keluargaku tersenyum bahagia, aku pun begitu.
" selamat, puteriku. Bayimu laki - laki. Ganteng sekali", ibuku terlihat begitu senang. Diciumnya kening puterinya ini. Aku tak bisa berkata apa - apa. Melihat suamiku yang begitu cerah mukanya, surga tersendiri bagiku.
" bagaimana keadaan anak kita, abang?", tanyaku lembut.
Sambil mengecup keningku, ia berkata lirih padaku.
"Terima kasih, cinta. Anak kita baik - baik saja. Masih di inkubator, sebentar lagi juga dibawa kesini".
Tak berapa lama, muncul seorang suster memanggil suamiku. Mungkin disuruh mengambil buah hatiku.
" pak Dasri, putera anda mengalami gagal jantung. Kami belum bisa menjelaskan kondisinya. Sebaiknya anda kesana, agar dokter bisa mendapatkan pertimbangan untuk langkah selanjutnya".
BLAG. Ibuku pingsan. Adikku berusaha menghiburku. Aku sendiri, tak berani membuka mataku. Tak berani menghadapi kenyataan. Lagi - lagi bintang itu tak kuasa bersinar dibawah redup matahari. Kehabisan energi.
Tak bisa kuceritakan bagaimana keadaanku, suamiku, ibuku, bapakku, adikku, bahkan rumahku sendiri, setelah kepergian bayiku untuk ketiga kali, dengan skenario berbeda disetiap latarnya. Semua mengalir sesuai kondisi. Aku masih bersimpuh dengan luka - luka yang menyayat batin dan perutku. Menanti drama selanjutnya oleh Sang Pembuat Skenario hidupku.
Benar. Ia terlampau adil. Allah, Tuhanku terlampau mengasihiku dengan mengembalikan yang menjadi hak ku. Seorang perempuan tiba - tiba datang kerumahku. Memberikan sebuah tawaran yang tak bisa kutolak sama sekali. Ia memberikannya sukarela tanpa mau menerima upah sedikitpun. Aku pun tertegun. Seorang bayi laki - laki, masih lengkap dengan tali pusarnya. Diserah terimakan oleh seorang perempuan yang ditinggal suaminya, kepangkuanku. Menjadi Bintang Dasri.

Nama lengkap : Umi Maghfirotin
Alamat : Jl. Palembang - Jambi, D2 dusun 4, RT/RW : 021/004
Kel. Bukit, Kec. Betung,  kode pos 30758 Kab. Banyuasin
Sumatera Selatan
Cp: 085279038955
Email : umisalmalintang@gmail.com

3 Oct 2016

Salam Rindu Guru

Kabut menyelimut gunung
Membias diantara cengkeh ranum
Dingin menusuk tulang dan kalbu
Membeku keras laksana batu

Batu runtuh memayung
Lintangpun gigal menghantam
Kicau burung pikatan
Menggema di telaga mili

Aren tak lagi meneteskan gula
Penyadapnya pulang meninggalkannya
Racun semerbak aromanya
Bunga-bunga tinggal layunya

Setetes keringat pengabdi
Mebanjiri sanubari
Menggulung ulu hati
Menenggelamkan nurani

Guru...

Gurui aku
Melangkah mendekatmu
Bersimpuh di pangkuanmu
Berselimut kehangatan kasihmu

Kan ku tumpahkan tangis
Untuk membasuh kakimu

Guru...

Rinduku menyalami hatimu

Malam satu suro