12 Feb 2013

Memuluskan Rhoma Memboyong Jokowi

Menurut sabda kepulan asap kemenyan, negara Indonesia akan menemui kemakmurannya pada masa kepemimpinan Satrio Piningit. Namun sebelum turunnya satrio piningit, negara harus dijompai-jampi oleh Eyang Noto Nogoro. Itulah sepenggal ramalan Joyoboyo.

Bukan sembarang peramal, Joyoboyo dikenal luas bahkan para ilmuwan menggunakan manuskripnya sebagai rujukan. Entah mahluk apa yang membisiki Joyoboyo dalam merangkai setiap bait puisi sakralnya, banyak ramalannya dianggap telah terpenuhi.

6 Feb 2013

Darahnya Masih Hijau

Dibesarkan dalam keluarga Nahdliyin membuat darahnya menjadi hijau (pada tulisan ini hanya menggunakan kata ganti orang ketiga tanpa menyebut nama demi perasaan yang bersangkutan).

Seperti makna yang terkandung dalam filosofi hijau nya Nahdlatul Ulama' melambangkan kesuburan. Dia berharap semoga pikirannya selalu subur dalam menilai dan mencermati segala permasalahan tanpa egois, fanatik dan tidak menerima pendapat orang lain.

27 Jan 2013

Menakar Pencapresan Jokowi

Sejarah mencatat, pemimpin yang bijak adalah raja yang menyamar dan berinteraksi langsung dengan rakyatnya.

Bahkan dalam dongeng kuno di negeri mana pun, raja lalim digambarkan sebagai seseorang yang enggan menemui rakyatnya dan lebih suka berpesta pora di dalam istana. 

Untuk menyelesaikan masalah kerajaan, ia memanggil punggawa istana dan meminta pendapat dari mereka. Selanjutnya, ia akan memerintahkan bawahannya untuk menyelesaikan persoalan itu lalu melanjutkan pesta pora di istananya.

19 Dec 2012

Virus 7F Menyerang Pemuda Indonesia

Sebagian besar pemuda abad ini telah terjangkiti virus 7F, perlu penanganan serius agar Virus 7F tidak merusak secara permanen. 

Virus 7F yang pertama adalah Fun (Foya-foya). Anak muda sangat menyukai dan menikmati bersenang-senang, dugem, pesta pora, mereka sangat kompak dalam hal ini. 

Dengan uang ngemis dari orangtua mereka rela iuran untuk membeli minuman beralkohol murahan,. Tak tanggung-tanggung, mereka menenggak di perempatan lalu berpura-pura kliyengan, seolah-olah teler, padahal demi gengsi supaya bisa dianggap berani.