30 Sep 2016

Sejarah G30S/2016


Kisah berawal adanya lomba mewarnai bagi anak lima tahun kebawah, Salma ikut didaftarkan ibuk. Hobinya memang menggambar, mewarnai, boleh dikata kertas dan pensil adalah bagian dari hidup Salma.

24 Sep 2016

Dilema

Menjadi seorang perempuan terkadang membuatku serba salah, bahkan aku pernah berputus asa. Ditambah lagi, tanggung jawab sebagai anak sulung dari kedua saudaraku yang sama - sama perempuan, semakin terasa berat kupikul dipundakku. Berat karena aku belum mampu memenuhinya. Memenuhi harapan orang tuaku. Mereka berharap aku sebagai yang tertua harus bisa membantu adik - adikku.

Waktu itu aku sangat yakin, dan sangat optimis bahwa aku bisa. Aku bisa mewujudkan impian orang tuaku, terutama ayahku. Dia begitu bangga melihatku berhasil lolos seleksi mahasiswa baru dan masuk di salah satu universitas unggulan bertaraf internasional, yaitu universitas Al - Azhar, Cairo, Mesir. Waktu itu dibenakku, aku bisa menjadi orang hebat, menjadi pejabat, pegawai negeri seperti ayahku, atau paling tidak menjadi seorang guru.

Ayahku, selalu membekaliku dengan nasehat - nasehat yang terkadang aku tak mengerti.
"Niate di toto, Um", bunyi pesan ayahku dengan logat Jawa nya yang kental. Yang artinya aku harus menata niatku, serta meluruskannya. Menghindari segala hal yang merusak tatanan niat itu sendiri.

Pesan itu berkali - kali diucapkannya padaku, dan terakhir kali di bandara Soekarno Hatta, sewaktu melepas keberangkatanku ke negeri Fir'aun. Tentu saja, pesan itu terdengar biasa saja ditelingaku. Karena bagiku, jauh sebelum mengikuti proses ujian, aku sudah menakar dan mematangkan niat dihatiku. Sebelum akhirnya, ternyata Sang Maha Kuasa menghendaki skenario baru yang sama sekali tak kuduga.

Ada yang tertinggal di bandara. Rupanya, aku melupakan sesuatu. Aku lupa bagaimana perasaan ayahku ketika menyampaikan pesan itu. Aku lupa bagaimana raut mukanya ketika melepaskan jabatan tanganku. Aku hanya ingat ibuku, yang tak bisa menahan luapan air mata, sambil menatapku dari luar ruangan only passanger, khusus penumpang.

Ayah memang berbeda dengan seorang ibu dalam memberikan kasih sayangnya. Meskipun tinggal beberapa menit kebersamaan kami, tak setitik pun air mata keluar dari pelupuk matanya. Malah, ia terlihat tegar, dan bersahaja. Sepertinya, ia ingin aku menangkap sinyal - sinyal semangat berjuang darinya. Tanpa harus diungkapkan dengan kata. Aku hanya melihatnya menatapku dengan kedua tangan yang menempel di dinding kaca. Guratan senyum dan sesekali anggukannya menyuruhku agar terus melangkah dan jangan menoleh kebelakang.

Sementara ibuku hanya melambaikan tangannya, seraya meneriakkan kata 'hati - hati' yang sama sekali tak terdengar olehku. Hanya gerak mulutnya seperti berkata demikian.
***
Sampai dua tahun aku di Cairo, ayahku masih saja mengingatkan pesan itu. Meski bosan mendengarnya, aku tetap mengiyakan. Sampai aku mengutarakan isi hatiku padanya, bahwa aku ingin menikah, aku mendengar suaranya yang lemah, layaknya orang yang dilanda penuh keputus asaan. Padahal, aku hanya ingin menikah, bukan ingin berhenti belajar. Namun tetap saja ayahku sulit memutuskan.
" kenapa tak kau tahan dulu sampai lulus s1, itu kan niatmu pertama kali".
Ternyata pesan 'noto niat ' itu begitu dalam. Nada getir dan sedikit khawatir ketika ia mengucapkannya, tak sempat kuhiraukan sewaktu di bandara. Ayahku pasti kecewa denganku. Mungkin, ia merasa harapannya telah kandas.

Sikapku dan calon suamiku yang masih tetap bersikukuh untuk menikah, akhirnya direstui kedua orang tua kami. Entah dengan berat hati atau tidak. Namun, di dalam diam aku mendengar bisikan hatinya yang lembut, mungkin inilah yang disebut telepati.
" puteriku, demi keselamatanmu, aku korbankan impianku".
"Oh, ayah, kau memang selalu berkorban untukku. Kelembutanmu selalu membuatku haru. Kenapa tak marah saja padaku, ayah?", batinku merajuk sendiri.
Pernikahan yang teramat singkat dan padat, tanpa suka cita keramaian atau semacam pesta, telah menyatukan cinta kami. Hanya

Selama hampir sembilan tahun, keluarga kecilku tinggal, dan bahagia di Kairo. Satu orang putera, dan seorang putri telah menghiasi rumah kami. Yang satunya lagi masih dalam kandungan. Yang akhirnya kubawa pulang ke negeri ini dalam usia enam bulan dalam kandungan. Aku masih ingat betapa orang tuaku sekaligus mertuaku terlihat resah menyaksikanku, mengandung enam bulan, anak pertama baru dua tahun, anak kedua baru satu tahun.

Baru setelah kelahiran anakku yang ketiga, mereka sedikit lega. Beberapa anjuran dan masukan mulai ditujukan padaku. Ibuku menyuruhku agar ikut mengabdi di sekolah, ayahku pun begitu. Katanya agar aku segera mengamalkan ilmuku. Disamping itu, ayahku pernah mengungkapkan bahwa menjadi seorang guru itu banyak manfaat, selain mengamalkan ilmu, kehormatan juga didapat, uang juga mengalir meski tak sederas aliran air terjun. Kalau ujung - ujungnya uang, kenapa tak menjadi tkw saja dulu?, tanyaku dalam diam.
"Lalu bagaimana anak- anakku?", pernah kutanyakan hal itu pada mereka.
" biarlah kakek neneknya yang mengasuh, lagi pula pekerjaan seorang guru tidak sepanjang hari".
Aku tak pernah memikirkan hal itu. Mertuaku memang tidak keberatan mengasuh cucunya, malah terlihat sangat senang dan bahagia. Meski sudah sangat tua, mudah lelah, dan mudah sakit - sakitan, mereka tak mau mengakuinya. Tapi realita tak bisa berbohong.
Aku tak bisa menuruti permintaan orang tuaku. Mengasuh tiga orang balita bukanlah pekerjaan mudah, apalagi untuk orang yang sudah tua. Aku tetap akan mengasuh anakku, karena saat inilah aku tidak boleh melalaikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.
"Ayahmu sudah banting tulang mendidik dan menyekolahkanmu sampai setinggi itu, agar kau bisa sukses. Menjadi orang hebat, orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Rasanya sia - sia ayahmu bekerja. Sia - sia ayahmu berharap memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya".
Aku ingin menangis sekeras - kerasnya ketika ibuku melayangkan sms itu di ponsel kecilku. Apakah aku sudah menjadi anak durhaka? Apakah aku sudah menyakiti hati orang tuaku? Aku tak bisa menjawabnya. Sekali lagi, menjadi perempuan terkadang membuatku dilema.

Rupanya, Sang Maha Kuasa telah menentukan takdirnya. Melihat keadaanku yang tak berdaya, menjadi anak salah, menjadi ibu juga salah. Akhirnya suamiku membawaku merantau ke pulau seberang. Dan sudah bisa ditebak bagaimana reaksi kedua orang tuaku.
"Dari lulus sd sampai perguruan tinggi, Umi selalu di pesantren, kuliah di Mesir, kemudian menikah dengan orang jauh dan sekarang? Akan dijauhkan lagi?".

Lagi - lagi ayahku menanyakan perihal niat kepadaku atas kepergianku.
" untuk mencari pengalaman. Di Jawa kami masih belum menemukan jalan rezeki kami. Siapa tahu Allah membukakannya disana".
" kenapa bukan suamimu saja yang pergi, kamu tetap disini?", tanya ayahku memberi pilihan.
"Maafkan aku, ayahku. Aku tak bisa jauh dari suamiku".
Maafkan anakmu, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa jauh dari suami sama halnya jauh dari ladang amalku. Ayah tentu mengerti, setelah menjadi seorang istri, aku tak boleh lepas dari tanggung jawabku. Di pesantren aku selalu diajarkan berbagai hak dan kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Setelah mengetahuinya, apakah aku lantas mengacuhkan tanggung jawabku?. Semoga ayahku mengerti.

Suamiku lah yang berkali - kali menjelaskan pada ayahku, sampai akhirnya mereka pun harus merelakan kepergianku untuk kesekian kalinya. Aku pun selalu berdoa agar kita dipertemukan kembali, suatu saat nanti.
***
Diperantauan, kami tidak serta merta terbebas dari tuntutan. Setiap kali menelpon, mereka selalu menanyakan pekerjaan. Lagi -  lagi mereka harus kecewa karena aku hanya menjadi seorang ibu untuk anak - anakku. Suamiku berjualan kerupuk yang di setorkan ke warung - warung kecil di sekitar kediaman kami. Dan dua kali seminggu mengajar di musholla. Kami sama - sama belajar di universitas Al - Azhar, namun suamiku merelakan ijasahnya demi aku. Ia bekerja mencukupi kebutuhan keluarga, sampai akhirnya kami pulang ke Indonesia. Karena itulah, sampai kapan pun suamiku ingin membuktikan bahwa tanpa ijasah kita mampu mengamalkan ilmu, mengajar yang membutuhkan, menjadi insan yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

"Kau sibuk apa, Um jauh - jauh kesana?", tanya ibuku dalam telponnya.
Jawabanku masih sama, "sibuk ngurus anak - anak, buk".
"Cobalah, cari lowongan mengajar, di TK atau SD kan bisa, mengajar sambil membawa anak nggak apa - apa".
"Iya buk, nanti kalau ada".
Selalu sederhana, jawaban - jawaban yang aku ungkapkan pada orang yang ku kasihi itu. Ia teramat sayang, dan terlalu mencintaiku. Ia senantiasa ingin melihat puterinya segera hidup mapan, dan memiliki pekerjaan tetap. Namun sayangnya, aku masih sama. Aku masih harus menjadi madrasah utama bagi anak - anakku. Maafkan aku, ibu. Aku hanya ingin kau tahu, ini hanya masalah rezeki. Allah belum berkenan membukakan kran rezekiku. Mungkin, nanti setelah aku lulus ujian. Ujian sebagai seorang hamba yang masih miskin, yaitu sabar.
Aku bukan tak ingin menjadi guru. Menjadi guru itu tugas mulia, oleh karenanya, suatu saat nanti, kalau aku menjadi guru, aku tak ingin mengotori niatku dengan keinginan nafsuku.
***
Disaat gundah, terkadang sebuah pertanyaan konyol begitu saja meluncur dari mulutku, "kalau laki - laki bisa mengamalkan ilmunya, belajar sekaligus mengajar pada yang lain. Berdakwah, mengajak pada kebaikan. Kalau perempuan? Memasak, mencuci, ngurus anak".
"Anak - anakmu lah ladang amalmu, buk. Anak - anakmu lah ladang dakwahmu. Salah satu tugas terpenting perempuan disamping taat pada suami adalah menciptakan generasi unggul, barakhlak mulia, taat pada agama, dan berguna bagi nusa dan bangsa", kata suamiku yang memang selalu bijak untuk menjawab semua pertanyaanku.
"Memang benar, regenerasi sudah menjadi tugas fitrah seorang perempuan. Tapi tanggung jawabku pada orang tuaku, balas budiku pada mereka? Apa?".
"Kita memang tidak akan mampu membalas jasa - jasa mereka selain dengan mendoakan mereka. Jadi kita harus berjuang agar amal - amal mereka tidak putus nantinya".
Seringkali air mataku tak dapat ku tahan, ketika menemani anak - anakku sedang belajar. Dalam hatiku, aku berpesan, " belajarlah nak, belajarlah sungguh - sungguh. Karena belajar itu kewajiban. Karena belajar akan menjauhkanmu dari kebodohan, kekolotan, bahkan kemusyrikan. Belajarlah bukan untuk menjadi apa atau siapa, belajarlah bukan untuk mencari uang atau kehormatan. Allah yang akan menjadikanmu terhormat, Allah yang akan mengkalkulasikan keuanganmu jika kau tawakkal padanya".

Setelah itu, aku sadar sesadar - sadarnya, bahwa menjadi perempuan bukan hal yang untuk disesalkan. Perempuan wajib belajar, perempuan harus menjadi hebat, untuk melahirkan generasi - generasi hebat.
Ayahku, ibuku, kalian tidak sia - sia mendidikku. Aku teramat mencintai kalian. Urusan harta, kehormatan, dan duniawi lainnya biarlah Allah yang mengatur segalanya.

19 Sep 2016

Mengajar Mengejar Cahaya

Tiga orang memasuki warung kopi Lek Man. Ustad Salim Siagian yang berpeci ulos khas batak, segera melepas sandal dan langsung naik ke lincak lebar dari bambu, melipat kakinya, bersila.
Wajahnya sedikit kusam. Satam telihat lebih ganteng dari yang seharusnya, berhias baju koko, bercelana jeans, berselonjor kaki dikursi panjang dibelakang meja yang juga panjang.
Seorang lagi berbaju songket berperawakan tegap dengan rambut dipangkas rapi, umur tiga puluhan, Pak Sekdes. Seperti kebiasaannya, beliau langsung mendekati meja penyajian tanpa merasa kikuk, mengambil cangkir mempersiapkan sendiri gula dan kopi sesuai takaran seleranya. Kemudian duduk di lincak disamping Ustad Salim.
Satu kebiasaan unik, adalah cara Lek Man menyeduh kopi. Racikan gula kopi diseduh setengah cangkir, diaduk menggunakan ranting kayu kaukah misri, gerakannya memutar teratur sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam, menyerupai aliran thawaf, kemudian dituangi air lagi sampai penuh dan sedikit tumpah.
Hampir tiga tahun, sebuah warung beratapkan daun nipah, merajut sejarah demi sejarah. Malam ini selepas isyak, mereka bertiga datang bersamaan, mengingatkan kembali pada awal warung berdiri. Saat tiga orang itu menjadi pelanggan pertama Lek Man.
***
Waktu itu Satamlah yang pertama kali menaruh kecurigaan, merasa ada kejanggalan. Pandangannya tajam, bukan cuma mata raga, tapi akal dan pikiran, "Apa ngaduk seperti itu berpengaruh pada rasa Lek?".
Lek Man kaget bercampur kagum, mendapati seorang pemuda dengan tingkat pengamatan diatas rata-rata. Lek Man pun berusaha menjawab dengan pertanyaan. "Yang kamu maksud rasa di lidah atau rasa yang lain?".
Satam seperti kapas terkena percikan api, tersulut rasa penasaran dan keningin-tahuan, "Lho... memangnya ada rasa yang lain Lek?".
"Oh... ya jelas ada, lidah itu indra pengecap, bukan indra perasa, kalo indra perasa itu disebut perasaan, mengenai tempatnya dimana, kamu bisa otak-atik sendiri dirumah nanti". Lek Man memang hobi memberi bahan tafakkur kepada siapapun, semacam PR.
Ustad Salim tahu arah pembicaraan, "Tapi apa iya... Ngaduk seperti itu bisa dapat pahala?". Mungkin sebagai guru madrasah, materi dosa pahala terlalu merasuk dalam darahnya.
"Ini bukan urusan dosa pahala Tad, dosa pahala mutlak haknya Allah. Tapi saya meyakini setiap gerakan dan hitungan itu ada sirr, ada rahasianya".
Satam dan Pak Sekdes belum paham, maka Lek Man pun menyambung keterangannya, "Orang berangkat haji itu membawa segala amalnya, yang hitam maupun yang putih, setelah diisi niat, tekad, dan kemantapan, kemudian meraka pergi dan melaksanakan ritual haji. Salah satu ritual yang paling berkesan adalah thawaf tujuh kali, dimana mereka diaduk bersama lautan manusia, insyaallah ketika semua itu dilakukan dengan penghayatan, pemasrahan, sambil mencari ridho Gusti Allah, maka mereka akan dipenuhi dengan nur, cahaya kebaikan, bahkan terkadang cahaya itu mampu memancar, meluber, tumpah ke sekelilingnya".
"Berarti ngaduk kopi itu ada filosofi ibadahnya", Satam merasa bisa menyimpulkan.
"Gayamu Tam! Tukang sadap karet kok pakai istilah 'Filosofi', nggak pantes, tapi kamu merdeka untuk mengucapkan dan menyimpulkan itu", mereka terkekeh.
"Lha kamu sudah haji berapa kali Lek?". Pak Sekdes ganti bertanya.
"belum pernah".
"Apa benar kamu belum haji Lek?, bukankah dulu kamu sekolah di Arab?". Pak Sekdes tidak percaya.
"Arab itu luas, arab itu banyak, aku di Mesir, sebelah barat Saudi". Lek Man berusaha menjelaskan secara sederhana. Lek Man memang pernah belajar di Al-Azhar Cairo, hampir delapan tahun beliau di negeri Musa.
"Berarti kalau shalat menghadap ke timur ya Lek?". Sebetulnya Satam itu pemuda yang cerdas, semangat ingin tahu juga tinggi. Seandainya pemuda ini sejak kecil mendapat fasilitas dan kesempatan yang normal, mungkin dia akan menjadi pemuda yang unggul di kampungnya, bahkan bisa jadi Indonesia. Seperti yang dialami sebagian anak bangsa, Satam hanya lulusan SD, orang tuanya penyadap karet sambil sesekali menggembalakan sapi milik orang lain.
"Lebih tepatnya menghadap ke timur serong ke selatan, karena aku dulu di wilayah Cairo".
Satam dan Ustad Salim mengangguk mantap, padahal hanya basa-basi. Karena Lek Man tahu, kemungkinan besar mereka tidak mengenal daerah yang disebutkan Lek Man.
***
Distrik Abbasiyah Provinsi Cairo, termasuk pusat Kristen Koptik, sebuah sekte Kristen yang dipimpin oleh seorang Baba. Disanalah Lek Man beserta keluarga kecilnya, belajar membaur, menyatu dalam perbedaan, memaknai perbedaan sebagai harmoni dan keagungan karya Tuhan.
Tasamuh, toleransi yang menjadi pondasi sikap dalam menghadapi perbedaan, Lek Man serap dari para kiyai sewaktu masih mondok, dan dilanjutkan pematangan dari para Syekh semasa nyantri di Mesir.
Sebuah momen sejarah menjelang kepulangan Lek Man ke tanah air, adalah ketikaSyekh Ahmad Thoyib, pemimpin tertinggi Al-Azhar melayat seorang kawan yang meninggalkan dunia fana. Seorang kawan yang bergelar Baba Shenouda III dari Alexandria Patriarkh Takhta Suci pemimpin Gereja Ortodoks Koptik.
Ditengah semakin merebaknya egosentris, para penghujat yang dangkal akal, para pengkritik yang terinfeksi penyakit saraf gelut. Sang guru tetap mantap dengan langkah dan sikap, memberi contoh kepada siapapun tentang arti penghormatan, toleransi, kasih sayang.
Lek Man menyaksikan semua itu, seakan terpecut semangat, Lek Man bertekad, dimanapun di negeri katulistiwa, kepada siapapun dakwah harus terselenggara. Racun egoisme virus fanatisme pelan tapi pasti, telah sedang dan akan menggerogoti kehidupan berbangsa, juga kehidupan bermanusia, karena kita manusia.
Segala jenis racun dan virus bisa masuk akibat kegagalan sistem ketahanan akal, asupan gizi informasi serta vitamin dakwah yang tercampur bakteri fitnah, disajikan diatas piring-piring kotor. Malangnya, banyak yang tidak sadar dan justru melahap habis suguhan itu.
***
Sekenario sang Maha Sutradara. Melalui lika-liku cerita sehingga Lek Man harus hijrah, ditempatkan pada sebuah altar daerah perantauan, diperankan sebagai penjual kopi.
Warung kopi itu menjadi mimbar istimewa, dimana setiap manusia yang hadir memang sangat plural, dari berbagai macam suku, adat budaya, dialek bahasa, sikap karakter, keyakinan agama, setrata pendidikan, berbaur dalam bangku panjang dalam kelas yang disebut warung.
Alhamdulillah, warung kopi bukanlah tempat sakral. Siapapun yang memasukinya berbaur, berembug, diskusi, ngangsu-kaweruh, dan semua orang merasa merdeka untuk mendengar dan didengar.
***
Mendung yang sedari sore menggelayut, mulai digantikan rintik gerimis.
Lek Man sengaja masih diam, seakan ingin memberi kesempatan kepada tiga pelanggan istimewanya menikmati lantunan instrumen gerimis yang memantulkan suara dedaunan, terasa syahdu menyapa jiwa.
Atau mungkin mereka tidak mendengar suara itu. Karena memang sejak mereka masuk fikiran mereka entah mengembara kemana. Keluar cakrawala, mengamati goresan aurora atau justru masuk di kedalaman jiwa meneliti sesuatu yang mikro, kelenjar, saraf, sel. Atau lebih dalam lagi, ke palung sanubari.
"Kok bisa bareng-bareng? Janjian apa darimana?" memecah keheningan, Lek Man menyodorkan kopi masing-masing.
"Ketemu di acara pak Romli, langsung bareng ke sini". Pak Sekdes menjawab mewakili dua kawannya.
Mereka terdiam kembali, gerimis pun menjadi hujan.
Setelah hampir tiga tahun sering ngopi di warung Lek Man. Mereka bertiga dan banyak kawan lainnya, mulai bisa memperdayakan akalnya, memerdekakan fikirnya, menjernihkan pandangannya dari jajahan nafsu, fitnah, provokasi, penggiringan opini dan seluruh penyakit peradaban.
Selama itu pula dengan telaten serta kesabaran, Lek Man selalu menekankan pentingnya mendaya-gunakan akal, fikiran, pandangan. Seperti yang sering di katakan Lek Man "Supaya tidak di tegur oleh Allah afala ta'qilun, afala tatafakkarun, afala tubshirun, afala tatadabbarun".
Kini Lek Man sering mem-posisi-kan diri menjadi pendengar, dan mereka diberi panggung seluas-luasnya, memyampaikan apa yang di tafakkuri, yang di tadabburi.
Pak Sekdes membuka orasinya yang panjang, hujan pun seperti ikut mendengarkan. "Saya mulai memahami Lek, dulu kamu pernah menyampaikan bahwa kita harus mengenali diri kita dulu untuk bisa mengenali Rob".
"Tuhan maksudnya? Allah?" Lek Man bertanya untuk meyakinkan.
"Ya. Man 'arofa nafsahu faqod 'arofa robbahu, sesiapa mengenali dirinya sendiri maka sungguh dia mengenali tuhannya".
"Prakteknya seperti apa?".
"Kenalilah diri sebagai apa, ketika kita miskin artinya kita diperintah sabar, ketika kaya dermawan, jadi pemimpin dituntut bijak, jadi hakim adil, pedagang tidak mempermainkan timbangan, ketika pandai harus mengajar ketika bodoh harus mau belajar dan seterusnya".
Lek Man menyimak dengan seksama, "Sesuai proporsinya".
"Ya. Bisa dibilang begitu, jangan sampai miskin mengeluh, kaya pelit, pemimpin dzolim, hakim berat sebelah, pedagang curang, pandai sombong, bodoh keminter".
Dengan raut wajah serius Lek Man menyela. "Sebentar, tahan dulu".
"Ada apa Lek? Apa ada yang salah?".
"Keminter itu kan istilah saya, kenapa anda pakai?". Mereka semua terpingkal-pingkal karena mengira ada hal serius. "Oke. Oke silahkan diteruskan".
Suasana kembali serius, hujan pun masih mengguyur.
"Pendidikan karakter harus kita tanamkan sejak dini, baik di sekolah, dirumah, dan juga lingkungan. Sejauh yang saya amati dan saya tadabburi di lingkungan kita sekarang, adalah suburnya individualitas ke-aku-an".
"Maksudnya pak?". Satam penasaran.
"Contoh kongkritnya begini. Kalau ada orang mainan sabu, hobi judi, kebanyakan justru mengambil sikap, yang penting bukan keluargaku, yang penting bukan anakku, yang penting bukan aku. Ini kan bahaya".
"Bahayanya dimana Pak Sekdes?" Sergah Lek Man.
"Jelas bahaya, bisa jadi nantinya anak itu akan jadi pejabat, gubernur, bupati, camat atau sekelas Kades, atau mungkin jadi menantu kita. Kalau sudah tobat Alhamdulillah, lha kalau belum atau kumat, kita juga kena imbasnya".
"Em ya ya". Lek Man mengalihkan pandangan menghadap Ustad Salim. "Menurut penerawangan anda yang setiap hari mendidik anak-anak, kira-kira apa yang bisa kita lakukan sebagai orang tua sekaligus masyarakat".
***
Sambil menata posisi duduknya Ustad Salim memulai petuahnya. "Sederhana".
Sepontan Satam langsung menyahut. "Menyepe...".
"Dengarkan dulu". Ustad Salim memotong komentar Satam yang belum rampung. "Aku belum selesai ngomong. Sederhana itu kami mengharapkan kepada para orangtua agar kembali menjadi anak-anak".
Ganti Pak Sekdes tertawa terkekeh-kekeh, tapi Ustad Salim tidak menghiraukan dan terus melanjutkan. "Maksudnya, jadilah kawan bagi anak-anaknya, jika waktu shalat diajak shalat, dicontohkan, di kawani. Jika waktunya belajar, ya ditemani, di bimbing".
Ustad Salim berhenti sejenak dan mengamati para pendengarnya. Alhamdulillah semua terlihat antusias. Maka beliau pun melanjutkan "Mulut kami sampai berbusa-busa nyuruh anak saling tenggang rasa, saling menyayangi, kalau orangtuanya hobinya gelut bertengkar, ya nggak ngaruh".
"Setuju". Jawab Lek Man. "Intinya saya menyimpulkan, masih ada hubungannya dengan kenali diri kita, jika jadi orang tua, maka tanggung jawablah terhadap anak-anaknya".
Semua serempak menjawab "Betul".
Kemudian Lek Man atau Nur Rohman Jaya Negeri --entah filosofi apa yang dipakai ayah beliau sehingga menggabungkan nama arab dan Indonesia. Mungkin ayahnya mengharapakan beliau jadi seperti pancaran cahaya Dzat Pengasih Penyayang yang mampu menjadikan jayanya sebuah negeri-- mengarahkan pandangan kepada Satam.
***
Seketika itu juga suara petir meledak merambat menggema, hujan sudah mulai reda, namun rintik kecil masih terasa.
Tak seperti sebelumnya, justru Satam agak sedikit gugup, degup jantungnya berpacu bergemuruh saling sahut antara rintik dan petir perpisahan. Matanya waspada, kepalanya menoleh keluar warung, kanan kiri jauh dekat diamati dengan teliti. Semua tempat, dibawah remang lampu jalan, di antara pekatnya pepohonan, tak luput dari sorotan matanya yang tajam.
"Kenapa Tam. Apa kamu mau pulang sekarang? Kopimu nah, masih utuh, masih rintik juga". Pak Sekdes dan semua merasa ada yang aneh.
"Sudah. Ngomong saja, kami tau kau punya cerita". Ustad Salim mengeluarkan logat Bataknya.
Satam menatap Lek Man, dibalasnya tatapan itu dengan anggukan. Dengan sedikit melirihkan suaranya Satam mulai bicara. "Selama saya bicara tolong jangan ada yang menyela". Semua diam mengisyarakan sutuju.
"Selama ini kita mengenal Iblis adalah musuh. Tapi pikiran liar selalu mengusikku. Mungkinkah Baginda Iblis, hanyalah memainkan sekenario dari Allah, Beliau hanya di-peran-kan".
Hampir saja semua protes, tapi mereka bisa menahan diri. "Sejak semula Nabi Adam diperkenalkan kepada malaikat sebagai kholifah fil ard, pemimpin di bumi, kemudian Nabi Adam juga dibekali dengan pengetahuan asma kullaha. Kalau pandanganku asma disitu bukan nama benda, tapi asmaul husna. Sampai disini aku menjadi gila. Bagaimana jika Iblis nurut sujud kepada Nabi Adam, sehingga tidak perlu terjadi konspirasi buah khuldi. Sehingga Nabi Adam dan bunda Hawa sampai sekarang masih di sorga, dan janji Allah tentang kholifah fil ard belum terlaksana".
Satam mengambil nafas, mata dan telinganya masih waspada. "Karena Nabi Adam tidak membuat kesalahan, maka pemahaman Nabi Adam tentang asma kullaha menjadi tidak sempurna. Penjelasannya begini. Malaikat tidak bisa memahami At-Tawwab Al-Ghoffar, karena mereka dihindarkan dari kesalahan. Maka yang bisa memahami atau mengenal Allah lewat salah satu asma-nya itu, adalah mereka yang pernah berbuat salah, Nabi adam, dan ilmu pun menjadi sempurna".
Ustad Salim dan Pak Sekdes mengangguk memahami. Sedangkan Lek Man justru terlihat mematung, sorot matanya lurus ke depan, tapi tidak terpusat pada obyek apapun.
Dengan suara agak tertahan Satam melanjutkan bicaranya. "Sejak kecil dulu aku tahunya hanya nyadap karet, keinginan belajar perlahan padam karena keadaan. Mungkin itulah yang menjadikan pola pikirku liar. Tapi sekarang semangat itu terbit kembali laksana matahari di ufuk timur. Aku pernah mendengar anda, menyampaikan bahwa ilmu adalah cahaya, al-'ilmu nuurun. Dan cahaya bisa dikejar, hanya ketika kita pun menjadi cahaya. Aku ingin menjadi cahaya, aku ingin berbaur, menyatu, manunggal, nyawiji dengan Nur. Terimalah aku sebagai murid wahai Mursyid, wahai Syekh Nur Rohman". Satam secara sigap langsung memegang tangan Lek Nur Rohman den menciumnya dengan ta'dzim.
Pak Sekdes dan Ustad Salim kaget, syok. Sementara beliau yang dipanggil dengan Mursyid masih mematung dengan sorot mata lurus kedepan. Hujan sudah benar-benar sirna, mendung pun tak ada yang tersisa. Digantikan Nur Al-Badri, cahaya purnama.
Nur Rohman Jaya Negeri seperti melayang, kemudian ikut berbaris dalam barisan shaf jagat raya bersajadah cakrawala, memutar tasbih yang butirannya tersusun bebatuan luar angkasa. di dalam mihrab dibawah sidrotul muntaha.
Kemudian beliau bermunajat "Wahai Sang Maha Sutradara, peran apa lagi yang engkau rancang untukku, bimbinglah aku dengan cahayamu".

Ahmad Syukron Mujib
d/a: dusun Sokolangu RT/RW : 001/001
         Desa Sambirejo, Gabus, Pati
         Jawa Tengah
Email: kodokkatulistiwa@gmail.com
No. Telp: 085279038955