21 Apr 2017

Ya Dzal Wabal

Setelah melepas topeng yg membungkus kulit muka, terlihat bahwa lipatan-lipatan tidak bisa menyembunyikan umur yg renta.

Kb Mb memapah secara hati-hati sang guru spiritual, Gb.

Gb : (setelah duduk di teras) Sebelum kalian datang aku sudah ada di pucuk pohon kelapa itu. (Sambil menunjuk pohon disamping rumah)

Mb : Berarti guru mendengar pembicaraan kami?

Gb : Aku bahkan memahami kebingunganmu membaca situasi di tanah Jawa, Jaya Karta.

Kb : Berilah kami pencerahan guru...

Gb : Pencerahan?.....hemm....pencerahan! Itulah kunci dari apa yang dilihat oleh Bagong. Perang batin yang menjurus pada perang fisik diakibatkan karena semua merasa pada posisi tercerahkan. Saling klaim kebenaran, memperkosa "Dawuh Gusti" hanya untuk membenarkan diri. Kalau saja semua merasa dalam gelap kebodohan, tentunya Gusti Allah akan membimbing menuju "nur" pemahaman. Tapi nyatanya.... Semua merasa dalam cahaya sehingga setan membimbing menuju pekat dan keruhnya kerukunan.

(Kb Mb terus menyimak, sementara saya masih mencuri dengar dari dalam rumah, Gb melanjutkan)

Santet kata-kata dikirim dalam kemasan do'a, sedangkan yang tulus berdo'a dicurigai membaca Tenung japa mantra. Semuanya terbalik dari "patrap", yang seharusnya bebas rahasia diumbar telanjang "udo mintal-mintul gondal-gandul", dan sebagian yang lain membalasnya dengan cara yang sama. Lebih miris, yang "istiqomah" menutup aurat pun berusaha diajak "ngedan berjamaah".

Kb : Siapa yang menang guru?

Gb : Kamu kok masih tidak paham Du...Bledu.... Jangan tanya yang menang... karena tidak ada yang menang, semuanya sudah kalah. (Emosi)

Mb sedikit "mbantah" :  Maaf guru, tapi aku melihat ada yang berpesta, ada yang bertakbir. Sekarang aku menyimpulkan bahwa pihak mukminlah yang menang.

Gb (makin emosi) : Kalian berdua memang GUOBLOK, robeknya tenun kebangsaan dan terputusnya tali ukhkuwah islamiyah, wathoniyah juga basyariyah kamu anggap sebagai kemenangan...!! Apakah kamu berpikir Kanjeng Nabi tersenyum melihat semua ini ...!! (Gb mengatur nafas) Tapi alhamdulillah... (Nafasnya mulai setabil) Gusti Allah menghindarkan Jaya Karta dari peperangan yang lebih dahsyat dengan terpilihnya yang "mukmin", itu tandanya Gusti masih me-Rahman-i Jaya Karta.

Akhirnya saya tidak tahan, saya keluar, saya mulai marah kepada mereka bertiga. Sambil meninggikan suara saya berucap :

"Ini adalah pemanasan menuju penghancuran total Negeri Nuswantara, ramuan beracun yang diracik berbahan sentimen Suku Agama Ras dan Antar golongan, sudah ditenggak jutaan manusia. Menjadi wabah yang menular sampai ke pelosok desa. Tidak ada yang bisa menangkal, Qutub atau Ghaust pun tidak bisa, hanya Allah, hanya Allah, hanya Allah."

Kerak Bledu nekat bertanya : Siapakah sebetulnya tuan ini? (seketika Gb menginjak kaki Kb)

Dengan terpaksa saya jawab : Namaku Ahmad Syukron Mujib yang dikenal dengan Tutur Bayituo. (Tb)

Mereka berebut mencium tangan saya, Gb mewakili murid2nya meminta maaf : Sudilah kiranya Maulana Wamurobbi Ruhina memaafkan murid yang fakir ini.

Saya (Tb) : Sudahlah wahai muridku, ajaklah cucu murid masuk ke dalam, kita bersama-sama melangitkan wirid Ya Dzal Wabal..... Ya Dzal Wabal....

Bersambung 2019.....

19 Apr 2017

Perang Batin

Tidak ada kepul "menyan" tanpa "langes" kayu gaharu, baru saja saya mengalami kejadian "ghaib". Sebetulnya saya ragu untuk menceritakan ini, tapi terpaksa saya menuliskannya.

Dua pengembara bertamu tanpa permisi langsung duduk diteras rumah saya. Sambil mencuri dengar obrolan mereka, saya mendapati pengembara muda bernama Kerak Bledu, sedangkan yang lebih tua dipanggil Mas Bagong (selanjutnya disinggkat Kb dan Mb).

Kb : KangMas.... Sampean sudah bertapa lelana, nyebrang samudra, sedangkan aku hanya mondar-mandir tanah Sumatra, tolong ceritakan pada fakir ini pengalaman apa yg kau alami hari ini di tanah Jawa.

Mb : Adikku.... Sejak pagi aku menyusuri tanah jawa dari pesisir Blambangan berjalan ke arah Lumajang, aku sempatkan shalat Dhuha dipuncak Mahameru, kemudain aku terus berjalan ke arah kiblat, saat matahari tepat diatas ubun-ubun aku "ngaso" di perbukitan Kendeng Utara, lalu aku Dhuhur berjamaah dengan batu kapur dan kayu jati, dalam hening wiridku aku terganggu sorak gegap gempita dari arah barat. Segera dengan langkah cepat melewati Alas Roban aku berusaha mendekati sumber suara.

Kb : Suara apakah gerangan yang mampu mengusik khusu' wirid kangMas?.

Mb : Suara takbir

Kb : Allahu Akbar.... Takbir itu dari wali Qutub atau seorang Abid?

Mb : Itulah yang menjadi misteri perjalananku, Adikku.... Baru kali ini mata batinku tidak mampu menyingkap  sirr, rahasia identitas mereka.

Kb : Apa yg sebenarnya terjadi kangMas?

Mb : Mereka bertakbir merayakan kemenangan entah siapa, dari perang apa aku tidak begitu paham. Tapi aku mendengar obrolan binatang ternak,  bahwa di daerah Jaya Karta sedang terjadi peperangan antara kaum "mukmin" melawan persekutuan kaum "kafir-munafik".

Kb : Tentu peperangan yang sangat dahsyat.... Dan aku menebak Gusti Allah memihak kaum mukmin. Berapa jumlah korban dari kedua pihak, mukmin maupun kafir-munafik?

Mb : Aroma anyir "jerohan" begitu menyengat, tapi tidak ada kulit seorang manusia yang tergores. Tidak ada nyawa yang meninggalkan raga.

Kb : Perang batin....

Mb : Ya... Perang yang tidak akan terdengar getar tali gandewa, tanpa riuh denting dan percikan api dari pedang kesatria. Tapi luka yang tak kasat mata menganga memuntahkan segala isi dada.

Kb : KangMas.... Sekali lagi aku bertanya, siapa pemenangnya. Mukmin kah, atau kafir-munafik?

Mb : Itu juga yang menjadi kegoblokanku adik.... Semuanya samar, mukmin yg kafir, munafik yang mukmin, kafir-munafik-mukmin, mukmin-munafik-kafir, munafik-mukmin-kafir......

Hahaha... Tiba- tiba terdengar lantang suara tawa ber-bareng-an munculnya sosok bertopeng di pelataran rumah saya.

Kb, Mb : (kaget dan berdiri) SIAPA KISANAK?

Orang bertopeng itu geleng-geleng kepala sambil melirihkan tawanya, kemudian berucap " dengan Mursyidmu sendiri kalian lupa, namaku belum berubah, akulah Gus Batok". (Selanjutnya disingkat Gb)

Kb, Mb : (tergopoh-gopoh, sungkem dan mencium tangan Gb) maafkan kami ya Maulana Murobbi Ruhina.

Bersambung.....

18 Oct 2016

Sebelum Kau Benar - Benar Haram Ku Cintai

Kau itu cantik, bisa dibilang kau adalah bunga desa di kampung kita. Semua laki - laki yang merasa tampan akan mempertaruhkanmu demi kepuasan hatinya. Pun laki - laki yang berkantong tebal, menawarkan seribu janji untuk selalu membahagiakanmu. Jangan hiraukan aku. Aku hanyalah laki - laki miskin yang tak punya suatu apa untuk kupertaruhkan  demi mendapatkanmu. Kau selalu berharap ada keajaiban kecil yang merubah takdir kita. Mustahil.
Lihatlah orang tuamu, begitu berharap agar si Radit memboyongmu kepelaminan. Setiap hari kau dibonceng motor honda barunya, aku hanya menatapmu diatas sepeda ontelku. Kau lebih pantas bersanding dengannya. Aku tak mau kau berubah menjadi kusut dan tak terawat kalau menjadi isteriku, lantaran aku tak mampu membelikan kosmetik andalanmu. Biarlah aku tetap melihatmu cantik meski kau bukan milikku.
Kau dan aku berpura - pura saling mencintai. Lebih detailnya aku sangat mencintaimu dan kau pura - pura mencintaiku. Menyakitkan bukan? Itulah yang kusebut pengorbanan sia - sia. Namun aku tak bisa berpaling darimu. Kau selalu menyeretku ke dalam jebakan cinta palsumu, apa maksudmu?. Melihatku mengemis cintamu, apakah membuatmu senang?membakar api cemburu saat kau dibonceng motor baru, suatu kebanggaan kah? Gadisku, lepaskan lah aku dari jerat cintamu.
Setiap hari secarik surat cinta kau layangkan padaku, melalui pos pribadimu. Goresan - goresan pedih yang seolah kau rasakan ketika harus melepaskanku, menyayat lubuk hati ini. Hentikanlah semuanya. Lupakan saja keajaiban kecil yang kau rindukan itu. Aku bukan yang terbaik untukmu, meskipun aku teramat mencintaimu.

Maafkan aku, Yudha. Aku terpaksa melakukan semuanya. Orang tuaku memaksaku. Aku tak berdaya. Aku berharap ada keajaiban kecil merubah takdir kita. Aku masih akan tetap mencintaimu, selamanya.

Bau harum dari kertas suratmu membiusku seperti pesakitan yang ingin berontak dari ranjang tidurnya. Aku terkulai di atas dipanku sendiri, menatap langit - langit rumah yang seolah akan jatuh menimpaku. Baik kupejamkan mata ini, bermimpi menyambut gadisku di ruang hati yang hampir hancur. Badai cinta menyambar nya berkali - kali. Namun masih bisa bertahan, sampai waktu akan bercerita bahwa gadisku di culik orang.
Radit, anak juragan tanah itu melamarmu, dan tentu saja kau menerimanya. Kau berharap aku datang menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkanmu dari kubangan lumpur hitam. Lupakanlah aku. Kau sudah menerimanya, entah dengan terpaksa atau senang hati, kenyataannya kau akan menjadi isterinya. Itu saja.
Aku harus pergi dari kehidupanmu. Pergi sejauh - jauhnya dari desa ini. Aku tak mau nantinya terjadi kisruh bila kita terus - terusan berkirim salam lewat sepucuk kertas bermotif cinta. Terang saja, sebelum kepergianku, ternyata kau harus pergi dulu. Ketempat aku tak bisa menjangkaumu lagi. Orang tuamu mungkin telah mengetahui hubungan kita, dan sengaja memisahkan kita dalam jarak ruang dan waktu yang begitu lama. Kau pergi entah kemana. Biarlah terjadi, ini memang harus terjadi. Aku akan pergi ke sebuah negara di Timur Tengah melanjutkan studiku, berkat beasiswa yang kuraih dari kedutaan Mesir .
***
Dari ujung benua, aku menerima kabar pernikahanmu. Aku bahagia, karena aku sudah menemukan penggantimu disini. Dia tak secantik dirimu, tapi dia yang membuatku tenang. Menapaki kehidupan baru dan melupakan dirimu.
Dua bulan berlalu, kau mungkin tengah mengandung anakmu. Diam - diam akupun mencari kabar tentangmu. Ibuku yang memberitahuku, bahwa kau lari dari rumah suamimu. Kau juga sempat meminum racun dan dibawa ke IGD. Kau setengah gila, apa benar - benar gila. Kenapa tak kau lakukan sejak dulu. Kenapa kau tak lari sebelum menerima pinangannya. Kenapa kau tak minum racun sebelum memegang pinggangnya diatas motor baru itu. Apa yang kau tunggu? Aku? Tidak mungkin. Aku sudah hancur. Jangan berusaha menyambung kembali puing - puing sukmaku. Enyahlah dari hidupku.
Batinku remuk. Gadisku terluka mungkin karena aku yang tak berdaya. Namun aku tak bisa kembali. Aku tak mungkin menggenggam dua kuntum bunga sekaligus di tanganku. Kau adalah mawar yang pernah menusukku dengan durimu. Karena itulah kupilih melati yang putih, bersih, selalu bersinar kala ku memandangnya.
***
Tiba waktunya aku harus segera menikah. Melepas masa lajang yang penuh ombak kebimbangan. Harus kuputuskan untuk menikahi gadis pilihanku. Agar bayangmu segera pergi dari hidupku. Aku pulang kenegeri tempat kita bertemu. Indonesia. Calon bidadariku masih di Mesir, baru setelah mendekati hari pernikahan, dia akan kupanggil pulang.
Didesaku, suasana masih seperti dulu, sebelum aku pergi. Hanya saja, kau sudah tidak disini. Kau melayang jauh di pulau seberang, di pulau Sumatera.
Aku berusaha mencari nomer telponmu, dari kawan lamaku yang kebetulan tinggal satu desa denganmu dipulau seberang. Meski nomer telpon sudah ku pegang, namun aku ragu untuk memencet tombol hijau bergambar telepon di ponselku. Aku resah, aku teringat calon isteriku. Tanganku tak bisa kompromi. Tiba - tiba ponselku berdering lebih dulu sebelum sempat kutekan tombol hijau. Buru - buru kuangkat namun kutahan suaraku.
"Halo....halooo.....haloo...", suara perempuan.
"Halo", jawabku kemudian.
"Ini nomernya Yudha kah?".
"Ya, siapa ini?"
"Kawan lama. Apa kabarmu? Lama sekali aku ingin mendengarkan suaramu. Kau pasti sudah mendengarkan kabar tentangku. Aku tak bisa....".
"Ssssst..pelankan suaramu", aku mulai menangkap suaramu dengan sinyal - sinyal di hatiku. Itu pasti kau, pasti. "Kau tak dimarahi ayahmu? Nelpon aku?".
"Ayahku sedang pergi, aku pinjam hpnya tapi aku pakai nomerku sendiri. Kau dimana sekarang? Aku dengar kau di Mesir?".
"Aku pulang, dan aku ingin mengatakan sesuatu padamu".
"Sama. Aku pun ingin mengatakan sesuatu padamu".
"Siapa duluan? Kau?".
"Kau saja".
"Tanggal 26 agustus....aku....", tak kuasa meneruskan kata - kataku.
"Married?".
"Benar". Sinyal terputus. Kucoba menghubungi lagi, hanya suara nyonya veronika memintaku meninggalkan pesan. Aku khawatir kalau dia menenggak racun lagi. Ku hubungi kawanku disana, agar terus mengontrol dirimu, kau jangan mati. Tubuhku limbung diatas tempat tidurku. Aku melakukan kesalahan. Tapi aku harus mengatakannya. Demi kebaikan kita bersama.
Bersabarlah, aku akan menemuimu. Pulau Sumatera, tujuanku selanjutnya. Aku ingin melihatmu terakhir kali sebelum aku benar - benar haram mencintaimu.
***
Pulau Sumatera. Wajahmu terus menghantui setiap perjalananku. Aku sudah tak sabar ingin melihatmu sekian lama. Aku iba denganmu, kau pasti terluka dengan pernikahanmu. Cibiran tetangga, menganggapmu pelacur, tentu sangat menyakitimu. Ijinkan aku menghiburmu. Memberi semangat kepadamu, sebelum aku benar - benar haram mencintaimu.
Seandainya, aku belum menemukan melatiku. Seandainya aku nekat melamarmu dulu. Seandainya...ah, seandainya. Penyesalan memang tak pernah berguna. Aku benci diriku sendiri. Naif. Pecundang.
Didesa tempatmu tinggal. Aku bernaung dibawah rumah kawan lamaku. Setiap pagi, siang, sore, aku menunggumu diteras rumah kawanku, siapa tahu kau berlalu melewatiku dan menoleh padaku.
Statusmu masih belum jelas. Janda, kau belum diceraikan.  Gadis, kau sudah pernah menikah. Janda kembang, orang - orang memanggilmu. Aku semakin bimbang. Keputusan sudah terlanjur ku ambil. Oh Tuhan, jauhkanlah aku dari kenistaan.
Keberadaanku disini memang tak diridhoi Tuhan. Aku telah mencampakkan tanggung jawabku. Sebentar lagi aku menikah, dan kau tak kunjung ku temui. Aku hampir putus asa, sebelum akhirnya sosokmu melintas didepan rumah ini. Kerudung biru, berkelebat diterpa angin. Dari belakang, kau seperti menyapaku. Entah hayalanku saja. Sepeda motor yang kau boncengi terlalu kencang, sampai aku tak bisa menatapmu dalam - dalam, dari belakang. Ya, kau berlalu memunggungiku. Itu artinya aku ditakdirkan tak boleh melihatmu. Selamanya.
"Yudha, cepatlah pulang. Kamu menikah empat hari lagi. Kamu sekarang dimana?", ibuku sudah mengultimatum dari Jawa.
"Iya bu. Aku segera pulang". Kali ini kau benar - benar marah padaku. Aku menyerah. Aku tak mungkin mencintaimu lagi. Selamat tinggal gadis pujaanku.
***

Entah Ludah Siapa Yang Tersangkut Di Kerongkongan

Di atas pohon buah berkikir lima - kalian menyebutnya buah belimbing - aku duduk, bertengger layaknya seekor burung bertandang di sarangnya. Menikmati hembusan angin sepoi - sepoi ditengah terik matahari. Aku menyaksikan mereka sama sekali tak merasa kepanasan. Lalu lalang, dari ujung barat ke ujung timur, bolak balik, tertawa bahagia, di atas sepeda kecil mereka. Teriknya matahari yang membakar kulit - kulit hitam mereka, membuat wajah mereka terlihat nanar, merah bercampur hitam, di sapu angin dan debu jalanan setapak itu. Orang tua mereka tak keberatan, tak ada yang mencari dimana anakku, tak ada yang menyuruh untuk tidur siang, apalagi belajar mengerjakan PR.

Apakah kalian pernah menjadi sepertiku? Menjadi seorang anak yang selalu di larang untuk mengerjakan sesuatu yang membuat kita senang, namun tidak bagi mereka para orang tua? Aku pernah. Aku pernah membenci orang tuaku sendiri, lantaran aku di larang main sepeda bersama kawan kawanku setelah pulang sekolah. Setiap aku pergi bermain bola, baru satu putaran permainan, suara ibuku sudah melengking menyuruhku pulang. Malu, itu pasti. Disebut anak mami, begitulah diriku.

Aku iri pada kawanku, Kholil. Semua permintaannya di turuti orang tuanya. Semua keinginannya, di penuhi juga. Orang tuanya tak pernah memaksakan apapun. Gayanya bak jutawan. Bajunya rapi selalu masuk celana, di ikat dengan tali pinggang. Model rambutnya, selalu kekinian. Baunya selalu harum. Berbalik seratus delapan puluh derajat dengan diriku.

"Aku takut sama ibumu, nanti kena marah", papar Kholil, masih dengan gayanya yang sok borjuis, duduk bersila di atas dipan di belakang rumahku. Baru sekarang ia mengutarakan alasannya tidak mengajakku bermain bola di dusun tetangga waktu itu. Dua puluh tahun yang lalu.
"Bukan. Kau pasti mengira aku tak bisa bermain bola. Padahal, setidaknya aku bisa jadi kiper". Kataku menolak alasannya.
"Kenapa kau tak bilang, dulu?", tanyanya padaku.
Aku diam, sambil menghisap cerutuku dalam - dalam. Aku masih ingat, aku memang sering kalah ketika bermain bola. Setiap kakiku terluka entah karena saling tendang, atau luka terjatuh, aku menangis, dan mengadu pada ibuku. Hasilnya, mereka kena marah ibuku, atau nenekku.

Selain itu, aku juga tahu. Kholil anak orang kaya, komplotannya juga anak orang kaya. Apalah diriku, yang hanya mengemis sejumput mie instant yang di remas mereka waktu itu. Semangkok bakso yang mereka telan, hanya menyisakan aroma di bau mulut mereka. Yang sesekali mereka hembuskan tepat di depan hidungku. Hahh.

Suatu ketika, komplotan Kholil mengajakku berpetualang di ladang. Petualangan yang lebih layak disebut kelayapan itu, tak mungkin mendapat izin dari ibuku. Tapi, di sela - sela waktu tidur siangnya, aku bisa.

Meskipun aku harus ikut terbakar panas matahari, tak menyurutkan tekadku untuk bergabung dengan mereka. Dan benar saja, di tengah ladang - ladang terbuka, panasnya bagai di panggang di atas seng yang di bawahnya bara api memuncratkan titik panas maksimum melebihi seratus derajat selsius. Aku harus berpura - pura biasa saja, di hadapan mereka yang terlihat tenang dengan teriknya sinar matahari di atas kepala. Satu persatu dari mereka mulai memetik ketimun. Mereka sangat cepat, dalam semenit saja, ada yang sudah mengantongi sepuluh buah ketimun, ada yang lima buah. Aku sepertinya yang hanya mendapatkan dua buah. Tiba - tiba ...

"Whoy...!!!maling....maling!!!".

Semua kawanku berhamburan berlari dengan kecepatan rusa jantan, menjauhi pak tani yang memergoki kelakuan kami. Mencuri. Sebuah istilah yang tak sempat ku pahami waktu itu. Sedangkan aku, aku memang bodoh. Aku lupa apa yang ku pikirkan saat itu hingga aku harus berdiam di tempat, tidak mengikuti mereka yang telah melaju lebih dulu. Inilah hari sialku. Pak tani pun mencekalku. Aku menjadi tersangka, tanpa bantuan hukum, tanpa pembela, aku di bawa ke sidang istana.

"Oy...Sardi. Ini anakmu?", tanya pak tani pada orang tua palsuku. Karena aku berbohong ketika di tanya anak siapa aku.
"Bukan, ini anak wak Limin",  jawabnya kemudian," emangnya kenapa dia?".
"Dia mencuri ketimunku".
"Ah nggak mungkin, aku tahu siapa Irul. Dia anak baik, nggak mungkin mencuri".
"Ya sudah, bilang sama orang tuanya, dia memang mencuri. Kalau tidak, bagaimana aku bawa dia kesini? Sudahlah aku ke ladang dulu".

Pak tani pun berlalu. Aku menatap wak Sardi. Aku ketakutan setengah mati. Bukan takut di bui atau di hukum mati. Aku takut ibuku.
"Rul, sana balik. Jangan kelayapan lagi ya. Aku nggak akan bilang sama ibumu". Aduh baiknya wak Sardi. Aku pun segera pulang setelah mengucapkan terima kasih.

"Kau itu memang culun, Rul. Masak kau lihat kita berlarian kau diam saja? Nggak cerdas amat sih?". Khalil mengejekku dengan canda tawanya yang renyah.
Kami duduk di belakang rumahku. Bayang - bayang dedaunan pohon belimbing yang tertiup angin, menari - nari di atas dipan yang kami duduki. Kami pun hanyut dengan peristiwa dua puluh tahun lalu.
"Trus, kau dimarahi ibumu? Penampilan kamu pasti aneh waktu itu".
"Ibuku tidak marah, beliau kan nggak tahu".

Waktu telah memisahkan kami cukup lama. Aku sekolah di Mesir, dia merantau di Kalimantan. Idul fitri telah mempertemukan kami di desa kelahiran ini. Desa tempat kami bersekolah dasar, bermain, dan berlaga.

Bahkan, aku memilih bermain masak - masak bersama anak perempuan disamping rumah tetanggaku. Ibuku tak akan memarahiku, karena permainan ini bukan jenis permainan yang mengharuskan kelayapan. Setiap kali aku minta sekaleng beras, sedikit tepung, atau minyak goreng, dengan senang hati ibuku memberinya. Namun jujur, bermain masak - masak itu menyenangkan. Tak ada saling tendang, yang berujung sakit. Tak ada saling mengejek, karena di situ bukan permainan kalah atau menang. Yang ada hanyalah senang dan kenyang. Permainan inilah yang menjadi pelarianku ketika aku tersingkir dari zona permainan anak jantan, kata mereka.

"Kau sekarang sudah sukses Rul, lulusan Mesir. Mana ada kawan kita yang berhasil sekolah tinggi macam kau. Kabarnya kau mau nikah?, dengan siapa?".
"Hmm, nanti kau juga tahu. Kau sendiri? Masih bujang? Betah banget sih".

Aku menatapnya menghela napas panjang. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas dipan yang kami duduki. Udara panas di siang hari menyapu wajah kami yang seketika sunyi.
"Aku memang masih bujang Rul, karena aku belum pernah menyentuh isteriku sama sekali sebelum dia kabur dari rumahku".

Dahiku mengernyit, namun ku simpan pertanyaanku dalam dalam di otakku. Kholil masih ingin melanjutkan ceritanya. Tanpa berkata apa - apa, ku beri dia kesempatan untuk mengungkap segalanya.

"Kau tahu? Gadis yang sama - sama kita incar dulu?". Tanya Kholil masih sambil berbaring.
"Lani maksudmu?".
"Ya. Kau benar. Keluargaku telah bersusah payah melakukan apa saja demi aku agar bisa menikahi dia. Dia terlalu banyak syarat. Aku harus sudah punya rumah sendiri, punya pekerjaan, punya kendaraan, perhiasan pun dia minta. Semua sudah aku turuti. Harta orang tuaku habis untuknya. Entah kenapa aku harus memilih dia, yang akhirnya meninggalkanku".

Aku masih tak berkomentar apa - apa, sambil sesekali ku lirik ponselku yang bergetar tanda pesan masuk. Pesan dari Lani. Gadis yang sama - sama kami incar sejak SMP dulu. Gadis yang terlampau cantik dengan model rambut yang selalu baru. Hinar binar matanya yang hitam legam menatap tajam. Senyumnya yang menawan kala menyapa kami. Raut muka yang sedikitpun tak pernah merasa sedih. Tanganku pun bergetar bersama getaran ponsel di genggamanku.

Aku sempat bertaruh dengan Kholil. Aku yang akan mendapatkan Lani. Namun, takdir harus memisahkan aku dengan Lani. Karena tujuan sekolah lanjutan kami berbeda.

"Setelah menikah, Lani tak mau kusentuh walau sedikit. Dengan alasan masih belum siap, atau sedang tidak enak badan, atau entahlah. Ternyata, belum seminggu kami menikah , ia kabur dengan membawa semua uang, dan perhiasan. Aku syok".

Aku juga syok. Dengan segenggam cinta yang ku rajut bersama Lani. Kholil tak menyadari, bahwa cintanya ada dalam genggamanku. Mulutnya masih mencaci maki mantan isterinya, yang sekaligus calon isteriku. Suaranya terdengar seperti lebah mengiang hendak menyengatku. Siapa sangka dia adalah dia. Dia adalah mantan isterimu. Dia adalah calon isteriku. Dia adalah gadis yang sama - sama kita idamkan dulu.

"Sekali lagi jika aku bertemu dengannya, pasti akan ku ludahi mukanya. Juhhh".

Seketika ludahnya telah masuk dalam mulutku. Aku hanya bisa menelan ludah yang entah ludah siapa yang tersangkut di kerongkongan. Hatiku semakin tak karuan.

"Kalau kau bertemu dengannya, bilang padanya, akan ku potong lidahnya. Yang pernah membujukku menyerahkan semua harta orang tuaku hanya demi menjadikannya isteri. Juhh".

Sekali lagi aku menelan ludah entah ludah siapa yang tersangkut di kerongkongan. Hatiku semakin tak karuan.

"Semoga isterimu nanti nggak seperti Lani, Rul. Semoga kau tak senasib denganku. Oya, kau belum kasih tahu siapa calon isterimu?".

"Hahahaha.... nanti juga tahu".
"Jangan - jangan calon isterimu jelek, miskin, janda. Pakai di rahasiakan segala, Rul".
"Calon isteriku cantik, lemah lembut, berjilbab, dan baik hati".
"Bagus, bagus, yang penting jangan seperti Lani". Kata terakhir yang ia ucapkan sebelum berpamitan pulang.

Hatiku seperti di tikam belati tajam. Menatap punggung Kholil yang pergi meninggalkanku, aku seperti kehilangan. Ia seperti bukan temanku lagi. Dari kejauhan, ia lebih mirip singa yang setiap saat siap menerkamku. Meskipun, saat ini belum tahu aku lah mangsanya.