30 Sep 2016

Sejarah G30S/2016

Kisah berawal adanya lomba mewarnai bagi anak lima tahun kebawah, Salma ikut didaftarkan ibuk. Hobinya memang menggambar, mewarnai, boleh dikata kertas dan pensil adalah bagian dari hidup Salma.

Sangat beralasan Bapak dan Ibuk bersemangat mengikut sertakan Salma dalam lomba. Dirumah biasanya Salma menggambar dengan imajinasinya sendiri, bebas, merdeka.

Lomba diadakan di Masjid Muhajirin JM, jadwalnya 30 September 2016 jam 13:00 dan molor sampai jam 14:30. Hanya dua hari kesempatan mengajari secara intensif, karena   informasi lomba telat kami terima.  Bagaimanapun lomba ini untuk TPA, maka Energi Bapak dan Ibuk terkuras untuk melatih Salma mewarnai kaligrafi, pilihan warna, efek shadow, gradasi beground.

Kaligrafi menjadi tantangan bagi Salma, diluar rutinitas goresan Salma yang terbiasa dengan gambar realitas nyata, manusia, tumbuhan, hewan, alam.

Alhamdulillah, latihan itu tidak mengecewakan hasilnya. Bapak tidak bisa berbohong pada diri sendiri, perasaan yakin mendapat juara sulit untuk dipadamkan. Tidaklah muluk-muluk, itu sangat wajar karena Salma memang lebih unggul dalam hal menulis menggambar.

***

Jum'at yang ditunggu telah tiba, segala sesuatunya sudah dipersiapkan namun satu yang kurang, uang jajan, tidak hanya untuk Salma, tapi Kakak Zuher Adek Lintang yang ikut "memberi dukungan".

Kebetulan pas Bapak tidak punya uang sama sekali, alhamdulillah masih ada lima ikat krupuk yang siap di setor. Sehabis jum'atan Bapak langsung tancap gas, nganter krupuk, dua ikat di Bakso Bang Madun alhamdulillah dapat 40 ribu, masih tiga ikat Bapak coba antar di Bakso Pandu Wijaya SUT, namun sayangnya sedang tutup.

Demi mengejar waktu yang sudah mepet krupuk langsung bawa pulang, tidak tersetor di warung yang lain tak masalah, yang penting sudah dapat uang saku.

Demi mempersingkat waktu tempuh, Bapak ambil jalan pintas lewat area sawit, baru masuk kira-kira 200 meter ban belakang bocor. Tapi teringat semangatnya Salma, motor malah semakin melaju kencang, tidak peduli ban jadi rusak.

Sampai dirumah angin mulai berhembus kencang, di langit awan mendung semakin merendah. Bapak pinjam motor kawan kemudian nganter Ibuk Zuher Salma Lintang ke lokasi lomba, sedangkan Bapak pulang ke rumah, pertama ngentasi gombal, kasur yang di ompoli Lintang, kedua balikin motor kawan, ketiga nambal ban.

***

Adzan Ashar berkumandang selang sebentar disusul dering sms. Kata Ibuk lombanya sudah selesai, gerimis masih mengguyur tidak memadamkan semangat Bapak nyusul kalian.

Di perjalanan pulang Ibuk cerita. Bukan mewarnai kaligrafi, tapi pemandangan. Alhamdulillah, berarti memang spesialisnya Salma ucap Bapak dalam hati.

Waktu lomba kawan-kawan Salma lumayan bagus juga dalam mewarnai, tapi masih kalah dengan Salma. Namun ada kejadian unik di lokasi.

Zuher berusaha melihat dari jendela kaca di belakang Salma, dilihatnya yang lain hampir selesai, tapi Salma justru baru sedikit mewarnai.

Dengan teriakan yang tertahan Zuher sedikit marah dan terlihat bingung karepe dewe. "Ma...!! Salma...!! Buk salma iki payah tenan" sambil melapor kepada Ibuk yang menggendong Lintang tertidur.

"Wes... Jar-no Her, kasihan" jawab Ibuk menenangkan Zuher. Ternyata di tengah lomba Salma ngantuk dan hampir tertidur.

Mendengar cerita itu, sambil menikmati grimis diperjalanan pulang kita semua tertawa sambil berkata "Ma.... Salma....".

***

Menjadi teringat Ibnu 'Athoillah Assakandary pernah menuturkan dalam kitabnya Al-Hikam : Istirahatkan dirimu dari "tadbir" ارح نفسك من التدبير.

Istirahatkan dirimu, nafsaka, diri tidak hanya raga, tapi segala yang melekat dalam ke-diri-an, termasuk di dalamnya ada perasaan, fikiran, energi. Sedangkan Tadbir adalah ketentuan yang belum terjadi, singkatnya adalah sesuatu yang AKAN terjadi.

Masa depan tidak ada yang tahu, kisah ini menjadi pelajaran bagi siapapun, proses sudah kita jalani dengan maksimal, itu kewajiban kita manusia. Namun hasil nantinya, adalah rahasia dan mutlak haknya Allah yang menentukan. Maka dari itu anak putuku, sekali lagi Istirahatkan dirimu dari prediksi yang muluk-muluk tentang masa depan.

_Bapak_

24 Sep 2016

Bbbbbbb

Menjadi seorang perempuan terkadang membuatku serba salah, bahkan aku pernah berputus asa. Ditambah lagi, tanggung jawab sebagai anak sulung dari kedua saudaraku yang sama - sama perempuan, semakin terasa berat dipundakku. Berat karena aku belum mampu memenuhinya. Memenuhi harapan orang tuaku. Mereka berharap aku sebagai yang tertua harus bisa membantu adik - adikku.

19 Sep 2016

Adgghh

Tiga orang memasuki warung kopi Lek Man. Ustad Salim Siagian yang berpeci ulos khas batak, segera melepas sandal dan langsung naik ke lincak lebar dari bambu, melipat kakinya, bersila.
Wajahnya sedikit kusam. Satam telihat lebih ganteng dari yang seharusnya, berhias baju koko, bercelana jeans, berselonjor kaki dikursi panjang dibelakang meja yang juga panjang.
Seorang lagi berbaju songket berperawakan tegap dengan rambut dipangkas rapi, umur tiga puluhan, Pak Sekdes. Seperti kebiasaannya, beliau langsung mendekati meja penyajian tanpa merasa kikuk, mengambil cangkir mempersiapkan sendiri gula dan kopi sesuai takaran seleranya. Kemudian duduk di lincak disamping Ustad Salim.

14 Mar 2013

Pohon Buah Berkikir Lima

Dari  ketinggian, sering kali saya menemui keindahan yang selalu ada dan terus berkembang. Objek yang saya lihat sejatinya tidak pernah berubah, pohon Kapas Randu di kejauhan, tapi pesona yang selalu ditampilkan tidak pernah membosankan walau setiap hari saya mengamatinya.

Rasa tenang ketika saya mendengar suara desir dedaunan, mungkin disebabkan Sel manusia dan alam sekitarnya tidaklah jauh berbeda.