18 Oct 2016

Sebelum Kau Benar - Benar Haram Ku Cintai

Kau itu cantik, bisa dibilang kau adalah bunga desa di kampung kita. Semua laki - laki yang merasa tampan akan mempertaruhkanmu demi kepuasan hatinya. Pun laki - laki yang berkantong tebal, menawarkan seribu janji untuk selalu membahagiakanmu. Jangan hiraukan aku. Aku hanyalah laki - laki miskin yang tak punya suatu apa untuk kupertaruhkan  demi mendapatkanmu. Kau selalu berharap ada keajaiban kecil yang merubah takdir kita. Mustahil.
Lihatlah orang tuamu, begitu berharap agar si Radit memboyongmu kepelaminan. Setiap hari kau dibonceng motor honda barunya, aku hanya menatapmu diatas sepeda ontelku. Kau lebih pantas bersanding dengannya. Aku tak mau kau berubah menjadi kusut dan tak terawat kalau menjadi isteriku, lantaran aku tak mampu membelikan kosmetik andalanmu. Biarlah aku tetap melihatmu cantik meski kau bukan milikku.
Kau dan aku berpura - pura saling mencintai. Lebih detailnya aku sangat mencintaimu dan kau pura - pura mencintaiku. Menyakitkan bukan? Itulah yang kusebut pengorbanan sia - sia. Namun aku tak bisa berpaling darimu. Kau selalu menyeretku ke dalam jebakan cinta palsumu, apa maksudmu?. Melihatku mengemis cintamu, apakah membuatmu senang?membakar api cemburu saat kau dibonceng motor baru, suatu kebanggaan kah? Gadisku, lepaskan lah aku dari jerat cintamu.
Setiap hari secarik surat cinta kau layangkan padaku, melalui pos pribadimu. Goresan - goresan pedih yang seolah kau rasakan ketika harus melepaskanku, menyayat lubuk hati ini. Hentikanlah semuanya. Lupakan saja keajaiban kecil yang kau rindukan itu. Aku bukan yang terbaik untukmu, meskipun aku teramat mencintaimu.

Maafkan aku, Yudha. Aku terpaksa melakukan semuanya. Orang tuaku memaksaku. Aku tak berdaya. Aku berharap ada keajaiban kecil merubah takdir kita. Aku masih akan tetap mencintaimu, selamanya.

Bau harum dari kertas suratmu membiusku seperti pesakitan yang ingin berontak dari ranjang tidurnya. Aku terkulai di atas dipanku sendiri, menatap langit - langit rumah yang seolah akan jatuh menimpaku. Baik kupejamkan mata ini, bermimpi menyambut gadisku di ruang hati yang hampir hancur. Badai cinta menyambar nya berkali - kali. Namun masih bisa bertahan, sampai waktu akan bercerita bahwa gadisku di culik orang.
Radit, anak juragan tanah itu melamarmu, dan tentu saja kau menerimanya. Kau berharap aku datang menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkanmu dari kubangan lumpur hitam. Lupakanlah aku. Kau sudah menerimanya, entah dengan terpaksa atau senang hati, kenyataannya kau akan menjadi isterinya. Itu saja.
Aku harus pergi dari kehidupanmu. Pergi sejauh - jauhnya dari desa ini. Aku tak mau nantinya terjadi kisruh bila kita terus - terusan berkirim salam lewat sepucuk kertas bermotif cinta. Terang saja, sebelum kepergianku, ternyata kau harus pergi dulu. Ketempat aku tak bisa menjangkaumu lagi. Orang tuamu mungkin telah mengetahui hubungan kita, dan sengaja memisahkan kita dalam jarak ruang dan waktu yang begitu lama. Kau pergi entah kemana. Biarlah terjadi, ini memang harus terjadi. Aku akan pergi ke sebuah negara di Timur Tengah melanjutkan studiku, berkat beasiswa yang kuraih dari kedutaan Mesir .
***
Dari ujung benua, aku menerima kabar pernikahanmu. Aku bahagia, karena aku sudah menemukan penggantimu disini. Dia tak secantik dirimu, tapi dia yang membuatku tenang. Menapaki kehidupan baru dan melupakan dirimu.
Dua bulan berlalu, kau mungkin tengah mengandung anakmu. Diam - diam akupun mencari kabar tentangmu. Ibuku yang memberitahuku, bahwa kau lari dari rumah suamimu. Kau juga sempat meminum racun dan dibawa ke IGD. Kau setengah gila, apa benar - benar gila. Kenapa tak kau lakukan sejak dulu. Kenapa kau tak lari sebelum menerima pinangannya. Kenapa kau tak minum racun sebelum memegang pinggangnya diatas motor baru itu. Apa yang kau tunggu? Aku? Tidak mungkin. Aku sudah hancur. Jangan berusaha menyambung kembali puing - puing sukmaku. Enyahlah dari hidupku.
Batinku remuk. Gadisku terluka mungkin karena aku yang tak berdaya. Namun aku tak bisa kembali. Aku tak mungkin menggenggam dua kuntum bunga sekaligus di tanganku. Kau adalah mawar yang pernah menusukku dengan durimu. Karena itulah kupilih melati yang putih, bersih, selalu bersinar kala ku memandangnya.
***
Tiba waktunya aku harus segera menikah. Melepas masa lajang yang penuh ombak kebimbangan. Harus kuputuskan untuk menikahi gadis pilihanku. Agar bayangmu segera pergi dari hidupku. Aku pulang kenegeri tempat kita bertemu. Indonesia. Calon bidadariku masih di Mesir, baru setelah mendekati hari pernikahan, dia akan kupanggil pulang.
Didesaku, suasana masih seperti dulu, sebelum aku pergi. Hanya saja, kau sudah tidak disini. Kau melayang jauh di pulau seberang, di pulau Sumatera.
Aku berusaha mencari nomer telponmu, dari kawan lamaku yang kebetulan tinggal satu desa denganmu dipulau seberang. Meski nomer telpon sudah ku pegang, namun aku ragu untuk memencet tombol hijau bergambar telepon di ponselku. Aku resah, aku teringat calon isteriku. Tanganku tak bisa kompromi. Tiba - tiba ponselku berdering lebih dulu sebelum sempat kutekan tombol hijau. Buru - buru kuangkat namun kutahan suaraku.
"Halo....halooo.....haloo...", suara perempuan.
"Halo", jawabku kemudian.
"Ini nomernya Yudha kah?".
"Ya, siapa ini?"
"Kawan lama. Apa kabarmu? Lama sekali aku ingin mendengarkan suaramu. Kau pasti sudah mendengarkan kabar tentangku. Aku tak bisa....".
"Ssssst..pelankan suaramu", aku mulai menangkap suaramu dengan sinyal - sinyal di hatiku. Itu pasti kau, pasti. "Kau tak dimarahi ayahmu? Nelpon aku?".
"Ayahku sedang pergi, aku pinjam hpnya tapi aku pakai nomerku sendiri. Kau dimana sekarang? Aku dengar kau di Mesir?".
"Aku pulang, dan aku ingin mengatakan sesuatu padamu".
"Sama. Aku pun ingin mengatakan sesuatu padamu".
"Siapa duluan? Kau?".
"Kau saja".
"Tanggal 26 agustus....aku....", tak kuasa meneruskan kata - kataku.
"Married?".
"Benar". Sinyal terputus. Kucoba menghubungi lagi, hanya suara nyonya veronika memintaku meninggalkan pesan. Aku khawatir kalau dia menenggak racun lagi. Ku hubungi kawanku disana, agar terus mengontrol dirimu, kau jangan mati. Tubuhku limbung diatas tempat tidurku. Aku melakukan kesalahan. Tapi aku harus mengatakannya. Demi kebaikan kita bersama.
Bersabarlah, aku akan menemuimu. Pulau Sumatera, tujuanku selanjutnya. Aku ingin melihatmu terakhir kali sebelum aku benar - benar haram mencintaimu.
***
Pulau Sumatera. Wajahmu terus menghantui setiap perjalananku. Aku sudah tak sabar ingin melihatmu sekian lama. Aku iba denganmu, kau pasti terluka dengan pernikahanmu. Cibiran tetangga, menganggapmu pelacur, tentu sangat menyakitimu. Ijinkan aku menghiburmu. Memberi semangat kepadamu, sebelum aku benar - benar haram mencintaimu.
Seandainya, aku belum menemukan melatiku. Seandainya aku nekat melamarmu dulu. Seandainya...ah, seandainya. Penyesalan memang tak pernah berguna. Aku benci diriku sendiri. Naif. Pecundang.
Didesa tempatmu tinggal. Aku bernaung dibawah rumah kawan lamaku. Setiap pagi, siang, sore, aku menunggumu diteras rumah kawanku, siapa tahu kau berlalu melewatiku dan menoleh padaku.
Statusmu masih belum jelas. Janda, kau belum diceraikan.  Gadis, kau sudah pernah menikah. Janda kembang, orang - orang memanggilmu. Aku semakin bimbang. Keputusan sudah terlanjur ku ambil. Oh Tuhan, jauhkanlah aku dari kenistaan.
Keberadaanku disini memang tak diridhoi Tuhan. Aku telah mencampakkan tanggung jawabku. Sebentar lagi aku menikah, dan kau tak kunjung ku temui. Aku hampir putus asa, sebelum akhirnya sosokmu melintas didepan rumah ini. Kerudung biru, berkelebat diterpa angin. Dari belakang, kau seperti menyapaku. Entah hayalanku saja. Sepeda motor yang kau boncengi terlalu kencang, sampai aku tak bisa menatapmu dalam - dalam, dari belakang. Ya, kau berlalu memunggungiku. Itu artinya aku ditakdirkan tak boleh melihatmu. Selamanya.
"Yudha, cepatlah pulang. Kamu menikah empat hari lagi. Kamu sekarang dimana?", ibuku sudah mengultimatum dari Jawa.
"Iya bu. Aku segera pulang". Kali ini kau benar - benar marah padaku. Aku menyerah. Aku tak mungkin mencintaimu lagi. Selamat tinggal gadis pujaanku.
***

Entah Ludah Siapa Yang Tersangkut Di Kerongkongan

Di atas pohon buah berkikir lima - kalian menyebutnya buah belimbing - aku duduk, bertengger layaknya seekor burung bertandang di sarangnya. Menikmati hembusan angin sepoi - sepoi ditengah terik matahari. Aku menyaksikan mereka sama sekali tak merasa kepanasan. Lalu lalang, dari ujung barat ke ujung timur, bolak balik, tertawa bahagia, di atas sepeda kecil mereka. Teriknya matahari yang membakar kulit - kulit hitam mereka, membuat wajah mereka terlihat nanar, merah bercampur hitam, di sapu angin dan debu jalanan setapak itu. Orang tua mereka tak keberatan, tak ada yang mencari dimana anakku, tak ada yang menyuruh untuk tidur siang, apalagi belajar mengerjakan PR.

Apakah kalian pernah menjadi sepertiku? Menjadi seorang anak yang selalu di larang untuk mengerjakan sesuatu yang membuat kita senang, namun tidak bagi mereka para orang tua? Aku pernah. Aku pernah membenci orang tuaku sendiri, lantaran aku di larang main sepeda bersama kawan kawanku setelah pulang sekolah. Setiap aku pergi bermain bola, baru satu putaran permainan, suara ibuku sudah melengking menyuruhku pulang. Malu, itu pasti. Disebut anak mami, begitulah diriku.

Aku iri pada kawanku, Kholil. Semua permintaannya di turuti orang tuanya. Semua keinginannya, di penuhi juga. Orang tuanya tak pernah memaksakan apapun. Gayanya bak jutawan. Bajunya rapi selalu masuk celana, di ikat dengan tali pinggang. Model rambutnya, selalu kekinian. Baunya selalu harum. Berbalik seratus delapan puluh derajat dengan diriku.

"Aku takut sama ibumu, nanti kena marah", papar Kholil, masih dengan gayanya yang sok borjuis, duduk bersila di atas dipan di belakang rumahku. Baru sekarang ia mengutarakan alasannya tidak mengajakku bermain bola di dusun tetangga waktu itu. Dua puluh tahun yang lalu.
"Bukan. Kau pasti mengira aku tak bisa bermain bola. Padahal, setidaknya aku bisa jadi kiper". Kataku menolak alasannya.
"Kenapa kau tak bilang, dulu?", tanyanya padaku.
Aku diam, sambil menghisap cerutuku dalam - dalam. Aku masih ingat, aku memang sering kalah ketika bermain bola. Setiap kakiku terluka entah karena saling tendang, atau luka terjatuh, aku menangis, dan mengadu pada ibuku. Hasilnya, mereka kena marah ibuku, atau nenekku.

Selain itu, aku juga tahu. Kholil anak orang kaya, komplotannya juga anak orang kaya. Apalah diriku, yang hanya mengemis sejumput mie instant yang di remas mereka waktu itu. Semangkok bakso yang mereka telan, hanya menyisakan aroma di bau mulut mereka. Yang sesekali mereka hembuskan tepat di depan hidungku. Hahh.

Suatu ketika, komplotan Kholil mengajakku berpetualang di ladang. Petualangan yang lebih layak disebut kelayapan itu, tak mungkin mendapat izin dari ibuku. Tapi, di sela - sela waktu tidur siangnya, aku bisa.

Meskipun aku harus ikut terbakar panas matahari, tak menyurutkan tekadku untuk bergabung dengan mereka. Dan benar saja, di tengah ladang - ladang terbuka, panasnya bagai di panggang di atas seng yang di bawahnya bara api memuncratkan titik panas maksimum melebihi seratus derajat selsius. Aku harus berpura - pura biasa saja, di hadapan mereka yang terlihat tenang dengan teriknya sinar matahari di atas kepala. Satu persatu dari mereka mulai memetik ketimun. Mereka sangat cepat, dalam semenit saja, ada yang sudah mengantongi sepuluh buah ketimun, ada yang lima buah. Aku sepertinya yang hanya mendapatkan dua buah. Tiba - tiba ...

"Whoy...!!!maling....maling!!!".

Semua kawanku berhamburan berlari dengan kecepatan rusa jantan, menjauhi pak tani yang memergoki kelakuan kami. Mencuri. Sebuah istilah yang tak sempat ku pahami waktu itu. Sedangkan aku, aku memang bodoh. Aku lupa apa yang ku pikirkan saat itu hingga aku harus berdiam di tempat, tidak mengikuti mereka yang telah melaju lebih dulu. Inilah hari sialku. Pak tani pun mencekalku. Aku menjadi tersangka, tanpa bantuan hukum, tanpa pembela, aku di bawa ke sidang istana.

"Oy...Sardi. Ini anakmu?", tanya pak tani pada orang tua palsuku. Karena aku berbohong ketika di tanya anak siapa aku.
"Bukan, ini anak wak Limin",  jawabnya kemudian," emangnya kenapa dia?".
"Dia mencuri ketimunku".
"Ah nggak mungkin, aku tahu siapa Irul. Dia anak baik, nggak mungkin mencuri".
"Ya sudah, bilang sama orang tuanya, dia memang mencuri. Kalau tidak, bagaimana aku bawa dia kesini? Sudahlah aku ke ladang dulu".

Pak tani pun berlalu. Aku menatap wak Sardi. Aku ketakutan setengah mati. Bukan takut di bui atau di hukum mati. Aku takut ibuku.
"Rul, sana balik. Jangan kelayapan lagi ya. Aku nggak akan bilang sama ibumu". Aduh baiknya wak Sardi. Aku pun segera pulang setelah mengucapkan terima kasih.

"Kau itu memang culun, Rul. Masak kau lihat kita berlarian kau diam saja? Nggak cerdas amat sih?". Khalil mengejekku dengan canda tawanya yang renyah.
Kami duduk di belakang rumahku. Bayang - bayang dedaunan pohon belimbing yang tertiup angin, menari - nari di atas dipan yang kami duduki. Kami pun hanyut dengan peristiwa dua puluh tahun lalu.
"Trus, kau dimarahi ibumu? Penampilan kamu pasti aneh waktu itu".
"Ibuku tidak marah, beliau kan nggak tahu".

Waktu telah memisahkan kami cukup lama. Aku sekolah di Mesir, dia merantau di Kalimantan. Idul fitri telah mempertemukan kami di desa kelahiran ini. Desa tempat kami bersekolah dasar, bermain, dan berlaga.

Bahkan, aku memilih bermain masak - masak bersama anak perempuan disamping rumah tetanggaku. Ibuku tak akan memarahiku, karena permainan ini bukan jenis permainan yang mengharuskan kelayapan. Setiap kali aku minta sekaleng beras, sedikit tepung, atau minyak goreng, dengan senang hati ibuku memberinya. Namun jujur, bermain masak - masak itu menyenangkan. Tak ada saling tendang, yang berujung sakit. Tak ada saling mengejek, karena di situ bukan permainan kalah atau menang. Yang ada hanyalah senang dan kenyang. Permainan inilah yang menjadi pelarianku ketika aku tersingkir dari zona permainan anak jantan, kata mereka.

"Kau sekarang sudah sukses Rul, lulusan Mesir. Mana ada kawan kita yang berhasil sekolah tinggi macam kau. Kabarnya kau mau nikah?, dengan siapa?".
"Hmm, nanti kau juga tahu. Kau sendiri? Masih bujang? Betah banget sih".

Aku menatapnya menghela napas panjang. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas dipan yang kami duduki. Udara panas di siang hari menyapu wajah kami yang seketika sunyi.
"Aku memang masih bujang Rul, karena aku belum pernah menyentuh isteriku sama sekali sebelum dia kabur dari rumahku".

Dahiku mengernyit, namun ku simpan pertanyaanku dalam dalam di otakku. Kholil masih ingin melanjutkan ceritanya. Tanpa berkata apa - apa, ku beri dia kesempatan untuk mengungkap segalanya.

"Kau tahu? Gadis yang sama - sama kita incar dulu?". Tanya Kholil masih sambil berbaring.
"Lani maksudmu?".
"Ya. Kau benar. Keluargaku telah bersusah payah melakukan apa saja demi aku agar bisa menikahi dia. Dia terlalu banyak syarat. Aku harus sudah punya rumah sendiri, punya pekerjaan, punya kendaraan, perhiasan pun dia minta. Semua sudah aku turuti. Harta orang tuaku habis untuknya. Entah kenapa aku harus memilih dia, yang akhirnya meninggalkanku".

Aku masih tak berkomentar apa - apa, sambil sesekali ku lirik ponselku yang bergetar tanda pesan masuk. Pesan dari Lani. Gadis yang sama - sama kami incar sejak SMP dulu. Gadis yang terlampau cantik dengan model rambut yang selalu baru. Hinar binar matanya yang hitam legam menatap tajam. Senyumnya yang menawan kala menyapa kami. Raut muka yang sedikitpun tak pernah merasa sedih. Tanganku pun bergetar bersama getaran ponsel di genggamanku.

Aku sempat bertaruh dengan Kholil. Aku yang akan mendapatkan Lani. Namun, takdir harus memisahkan aku dengan Lani. Karena tujuan sekolah lanjutan kami berbeda.

"Setelah menikah, Lani tak mau kusentuh walau sedikit. Dengan alasan masih belum siap, atau sedang tidak enak badan, atau entahlah. Ternyata, belum seminggu kami menikah , ia kabur dengan membawa semua uang, dan perhiasan. Aku syok".

Aku juga syok. Dengan segenggam cinta yang ku rajut bersama Lani. Kholil tak menyadari, bahwa cintanya ada dalam genggamanku. Mulutnya masih mencaci maki mantan isterinya, yang sekaligus calon isteriku. Suaranya terdengar seperti lebah mengiang hendak menyengatku. Siapa sangka dia adalah dia. Dia adalah mantan isterimu. Dia adalah calon isteriku. Dia adalah gadis yang sama - sama kita idamkan dulu.

"Sekali lagi jika aku bertemu dengannya, pasti akan ku ludahi mukanya. Juhhh".

Seketika ludahnya telah masuk dalam mulutku. Aku hanya bisa menelan ludah yang entah ludah siapa yang tersangkut di kerongkongan. Hatiku semakin tak karuan.

"Kalau kau bertemu dengannya, bilang padanya, akan ku potong lidahnya. Yang pernah membujukku menyerahkan semua harta orang tuaku hanya demi menjadikannya isteri. Juhh".

Sekali lagi aku menelan ludah entah ludah siapa yang tersangkut di kerongkongan. Hatiku semakin tak karuan.

"Semoga isterimu nanti nggak seperti Lani, Rul. Semoga kau tak senasib denganku. Oya, kau belum kasih tahu siapa calon isterimu?".

"Hahahaha.... nanti juga tahu".
"Jangan - jangan calon isterimu jelek, miskin, janda. Pakai di rahasiakan segala, Rul".
"Calon isteriku cantik, lemah lembut, berjilbab, dan baik hati".
"Bagus, bagus, yang penting jangan seperti Lani". Kata terakhir yang ia ucapkan sebelum berpamitan pulang.

Hatiku seperti di tikam belati tajam. Menatap punggung Kholil yang pergi meninggalkanku, aku seperti kehilangan. Ia seperti bukan temanku lagi. Dari kejauhan, ia lebih mirip singa yang setiap saat siap menerkamku. Meskipun, saat ini belum tahu aku lah mangsanya.

14 Oct 2016

Obat Rindu Kawan Lama

Klopoduwur, dimasa pasukan kumbang menyerang habis seluruh pohon kelapa di desa ini. Berusaha menghilangkan jati dirinya. Hal itu membuatku sedih. Terlebih saat jasadmu ikut - ikutan diserang bala. Sia - sia saja kupaksa kau minum obat.
"Kesembuhan tidak akan menyelamatkan dari kematian", katamu.
"Benar. Semua orang pasti mati. Aku pun begitu, meskipun aku masih muda. Tapi Allah memerintahkan kita untuk berobat, kala kita sakit".
"Aku sudah berobat", ujarmu lagi.
"Obat apa? Obat dari mantri kau buang. Obat daun kumis kucing, daun mangkokan, daun ginseng, kau muntahkan. Obat yang mana?", tanyaku kesal.
"Obat rindu, nduk. Aku rindu kawan lamaku. Ini hanya jasad, tak perlu kau risaukan. Aku yang sebenarnya, sama sekali tidak sakit".
"Minumlah obatnya pak, sekaliiii.....saja", pintaku bersimpuh kepangkuanmu, menyentuh tulang - tulang yang hanya terbungkus kulit. Lima tahun bergulat dengan penyakit, stroke,hernia, batu ginjal, darah tinggi, komplikasi. Kau masih bilang tak sakit. Setiap hari kau menghisap racun sembilan senti.
"Rokok itukah obatmu, pak?", Napasmu tersengal - sengal. Batukmu mirip mengi seekor kucing. Nyaring ditelingaku. Tubuh kurusmu pun terguncang dibuatnya.
"Bukan, rokok hanyalah teman", sambil menahan batukmu.
"Lalu, anakmu ini bukan teman?", menjagamu setiap malam, mengajakmu bercerita, mengingatkanmu agar minum obat, meski tak pernah kau turuti.
"Bukan", aku tercengang. " kau adalah anakku, yang akan meneruskan sisa - sisa hidupku nanti. Menemani emakmu setelah aku pergi".
" Jangan bicara lagi, pak. Napasmu seperti mau hilang, istirahatlah", suaramu sudah tak jelas kudengarkan. Karena mulutmu kaku. Entah makhluk mana yang telah membengkokkan tulang rahangmu. Semua kata yang keluar dari mulutmu terdengar sama. Namun aku mampu menerjemahkan.
" awka lawva", aku lapar. Ucapmu dalam bahasamu. Kau hanya mau makan mi instan. Berkali - kali aku larang, kau pilih selamanya tak makan. Itu yang aku tak mengerti. Makan nasi, tak mampu menelan, kasar, katamu. Makan bubur, kau muntahkan, hambar, kau bilang.
***
Sebelum mulutmu kaku. Makanan kesukaanmu adalah singkong, yang ditumbuk halus, dan padat menjadi gemblong, atau gethuk. Emak sangat rajin bersusah payah membuatnya untukmu. Kau juga menyukai barang - barang antik. Jam dinding besar dan panjang, terbuat dari kayu, setiap berdentang dua belas kali ditengah malam, buluku begidik dibuatnya. Lampu petromak, sepeda ontel Oemar Bakri, kau bilang. Dan geledek - lumbung padi besar - yang sekaligus kau jadikan meja diruang tamumu.
"Aku kangen sedulur - saudara - ku, Soerosentiko. Biasanya kalau bulan suro, ia pasti mengajakku ke peguron adam di Karang Pace. Bersama sedulur sikep - sesama saminis - yang lainnya".
"Ngapain aja dipeguron adam, pak?", tanyaku setengah malas.
"Belajar agama islam, dan membentuk gerakan anti Belanda ". Dahiku mengernyit.
"Dimana dia sekarang?".
"Orangnya sudah mati, berpuluh - puluh tahun yang lalu", bibirku seketika melingkar , " diasingkan di Padang, di Sawahlunto, oleh pemerintahan Belanda kala itu. Mungkin sekarang ada disana makamnya". Katamu, sebelum mulutmu kaku.
"Kok mungkin? Ya pastilah".
"Entahlah, kawan - kawanku sudah pernah ada yang melacak, namun tak ketemu dimana makamnya". Kau pun merenung diatas kursi panjangmu, tanpa menghiraukan aku yang tengah sibuk menyiapkan makan malam.
Anganmu melayang sampai entah kemana, yang tak sengaja menyeretku mengikuti alur cerita di kepalamu. Kau mungkin masih trauma, menyaksikan penyiksaan yang dilakukan oleh kaum Belanda putih dan hitam kepada segenap sedulur sikepmu. Kau tak bisa berbuat apa - apa, karena kau tak mau kehilangan sejarah dirimu sendiri. Melahirkan aku, adalah tujuanmu. Menjadikanku buku - buku sejarah yang mencatat setiap jengkal napasmu.
Atau kau sedang menyusun strategi baru, untuk melawan Belanda masa kini. Ah, pasti bukan itu yang kau pikirkan.
Ah, Soerosentiko. Aku yakin kau sedang memikirkannya.
Kau rela membiarkan jasadmu lumpuh, membuang seluruh butir obat yang diberikan mantri.
"Soerosentiko, dulu bapak masih sering main ke Ploso, meskipun ia sudah tiada. Menyaksikan kepergiannya, wajah lemasnya, rantai besi yang mengikatnya, kala serdadu Belanda menyeretnya dan membuangnya, seharusnya bapak bersamanya".
"Menyesal karena tak bisa menolong? Atau menyesal masih hidup?".
"Bukan. Aku sengaja dihidupkan agar aku bisa menorehkan tinta - tinta sejarah kami sepanjang perjalananku. Kaulah yang akan menjadi buku tulisku".
***
Benar. Tinta emas yang kau goreskan dilembaranku, abadi. Sampai penolakanmu meminum obat, pasti karena dia. Kau sekarang tengah merindukannya. Meski obatnya bukan made in Belanda, kau masih membuangnya.
"Kenapa kau berikan barang itu lagi?".
"Apa bapak merindukan kawan lama? Kalau dia masih hidup, pasti dia menyuruhmu minum obat".
"Tapi dia sudah mati. Kau hanya seorang anak yang peduli bapakmu, kau tak mengerti perjuangan seorang kawan, demi menjaga tanah leluhur kita. Kau tak mengerti hutan - hutan jati disepanjang jalan Randublatung itu dulu milik siapa. Kau tak mengerti, atau belum mengerti...".
"Besok mantri mau kesini, pak. Memeriksa kondisi bapak".
"Siapa lagi itu, aku tak butuh dia. Aku hanya butuh istirahat".
"Istirahatlah kalau begitu", namun tetap saja mantri kuminta datang memeriksamu. Kondisimu semakin lemah. Untuk berjalan kau sudah tak mampu. Buang air kecil dan besar ditempat tidurmu. Untuk bangun saja harus kubantu menegakkan punggungmu disandaran kursi. Matamu sudah kabur, adikmu sendiri kau bilang orang lain. Antara emak dan aku hanya beda suara. Aku hanya melakukan yang semestinya, sebagai anakmu.
"Kita cek dulu pak tensinya", mantri mulai memeriksamu. Kau pun terkulai lemas diatas kursi kayu. Seperti pasrah ketika kelopak matamu di paksa membuka, lidahmu dipaksa menjulur meski susah, mulutmu kaku. Ketika dokter hendak memasang selang yang menjadi jalur aliran air senimu, kau memberontak.
"Jangan! Jangan kau lakukan itu. Aku bukan tahananmu, kau tak boleh seenaknya mempermainkan jasadku, pergi kau dari sini". Kau mengamuk sekenamu. Tak ada yang bisa memahami bahasamu. Hanya aku sendiri, menatapmu yang melinangkan air mata. Aku pun terduduk lesu. Mantri harus pergi, ia meninggalkan resep yang harus kau minum setiap hari.
Kau kembali mengerang seperti kesakitan. Kuraih tanganmu yang gemetar, mencairkan bulir keringat yang membatu dihati dan ginjalmu. Soerosentiko, seandainya dia menyaksikanmu saat ini, pasti kau sembuh seketika.
"Soerosentiko sering main kesini nggak, pak?", kupancing pita suaramu yang tenggelam didasar laut hatimu. Umpanku tersangkut.
"Memang disinilah, di Klopoduwur ini, kami memulai pergerakan itu. Pergerakan orang - orang samin untuk melawan kekejaman Belanda putih dan hitam". Belanda hitam, kau menyebut orang pribumi yang rela menyiksa saudara sebangsa sendiri. Menjadi antek penjajah negeri ini. Kau selalu semangat menceritakan tentang dia. Akupun akan setia merekam setiap alur cerita yang kau susun menjadi sebuah film drama yang kuputar di bioskopku sendiri.
"Kami tidak mau membayar pajak, karena ini tanah kami. Warisan dari keturunan pandawa kepada Sunan Kalijaga. Kami membelot dari pemerintah Belanda. Orang - orang seperti Soerosentiko, memelopori perlawanan dengan tanpa kekerasan. Tapi dengan cara pekok, kepada Belanda. Sampai sekarang wong samin masih dibilang pekok, namun kami tetap bangga. Bukan seperti orang - orang yang bilang anti penjajahan, namun membiarkan dirinya terjajah tanpa mereka sadari", ceritamu mengalir bersama hembusan angin sepoi - sepoi yang menyibak - nyibak kain korden kamarmu. Mengiang - ngiang bagai suara igau anak kecil yang minta dibelikan mainan. Aku tetap setia mendengarkanmu, dialam mimpiku.
***
"Nduk, tolong buang kotoran bapakmu", pinta emak dari dapur. Aku masih sibuk menjemur pakaian. Kau mengerang lagi, " hwa, hwa, hwa!!!".
"Sabar , pak. Kalau habis jemurannya". Kau kembali diam.
Setelah habis jemuranku, kuhampiri dirimu terduduk lesu meringkuk diatas kursi panjang sekaligus tempat tidurmu. Pilu. Kuambil sarung penutup tubuhmu, yang bergelimang kotoranmu sendiri. Aku tak pernah jijik, hanya kuhentikan napasku sesaat sampai kubuang kotoranmu.
Kau seperti kedinginan. Terdengar dari suara dan mulutmu yang bergetar. Kubersihkan badanmu, dan kubalut dengan pakaian kesukaanmu. Kemeja putih, dan sarung lurik hadiah dari pakdhe dulu. Kau pun berbaring, berselimutkan kain jarit panjang yang menutupi ujung kaki hingga lehermu.
Lembayung senja mengikis garangnya mentari yang membakar bumi. Sekawanan ayam berebut masuk kekandangnya. Kumandang adzan maghrib pun terdengar di musholla. Kau masih tidur, atau tiduran dengan mata yang selalu terpejam.
"Makan, pak?", tanyaku. Kau hanya menggeleng dan bergumam lirih. Kutinggalkan kau sendiri. Aku akan berdoa semoga kesembuhan jasadmu segera dipenuhi oleh Sang Maha Kuasa.
Pukul sembilan malam, kau masih dalam posisimu. Kau seperti mengigau lirih, aku pun berusaha membangunkanmu. Tapi kau hanya bergumam "hem", aku mengerti. Aku semakin tak kuasa meninggalkanmu. Kubacarakan surat yasin disampingmu. Kuajak kau bercerita, namun kali ini aku yang bicara. Kau pendengar setia, sampai suara jangkrik mengerik memecah keheningan malam, tiba - tiba kau menjawab salam "waalaikum salam". Tak ada yang mengetuk pintu apalagi mengucapkan salam, ah, kau mengigau lagi. Aku pun tertidur disampingmu.
Adzan subuh memanggilku dari dalam mimpi dan membawaku kedunia menatap waktu. Pukul setengah lima pagi. Kulihat wajahmu, terlihat teduh, tenang, tak ada keriput. Dimana keriputmu? . Rahangmu seperti kembali, mulutmu tak menceng lagi. Aku merasa doaku telah dikabulkan. Akupun mencium tanganmu. Dingin, kaku.
Tubuhku terkulai, lemas. Kau telah meminum obat rindu itu, menyusul sahabat karibmu di kehidupan bukan jasad lagi. "Bapaaa...k!!!".
Umi Maghfirotin, lahir 3 mei 1988 di desa Klopoduwur, Banjarejo, Blora. Menamatkan pendidikan dasar di sd Klopoduwur, selanjutnya di Mts Maarif 2 Blora,dan melanjutkan ke MA Raudhotul Ulum Pati, Jawa tengah. Menempuh pendidikan terakhir di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. Saat ini aktif mengajar tahfidz al-qur'an yang standnya di rumah sendiri di SumSel, dengan alamat Jl. Palembang - Jambi D2 duaun 4 RT:021 RW:004 Kelurahan Bukit, Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin. Mulai suka menulis sejak SMU, sampai sekarang.

12 Oct 2016

Karneih

Musim dingin di kota Kairo. Dengan suhu paling rendah 4 derajat celcius. Puncaknya di bulan Januari. Bersamaan dengan diselenggarakannya ujian termin awal bagi mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo. Dingin, dan kering. Tak ada hujan. Seluruh kulit terasa bersisik ketika diraba. Permukaan bibir akan pecah, koyak dan berdarah, jika tak rajin mengoleskan lip balm atau mosturizer bibir. Jaket kulit tak mampu menjadi tameng penghalang hawa dingin. Minimal tiga lapis pakaian yang harus dikenakan ketika berada diluar rumah.
Pohon - pohon Erythrina caffra, pohon Karang Afrika menyisakan ranting setelah ribuan daunnya berjatuhan disepanjang musim gugur, bunganya yang merah merona membalut setiap ranting tak berdaun diatas ketinggian lima meter. Dibawahnya nampak seorang gadis, tengah memelototi buku diktat tebal dipangkuannya. Hafalan mukorror - buku diktat - terdengar disetiap sudut asrama puteri khusus delegasi.
Nabila, salah satu mahasiswi tingkat tiga, sedang tergesa - gesa untuk berangkat ujian, meski ia sedang terkena hassasiyah - alergi musim dingin - yang menyerang kulit luarnya, menimbulkan rasa panas dan gatal. Pakaian tiga lapis, jaket wol, jilbab lebar, syal, sarung tangan, masker - penutup hidung dari hawa dingin agar tidak kering - kaos kaki, sepatu, harus lengkap tak boleh kurang satupun. Karena di arena terbuka, segala kemungkinan hal tak terduga harus di antisipasi sebelumnya.
Didalam tramco - angkutan umum - sambil menghafal materi - materi ujian, saking fokusnya, sampai tak terdengar teriakan sopirnya.
"Ya anisa!!! Kulliyah dih, nazlah wala la a?", hey, gadis perempuan, ini sudah di kuliah, mau turun apa nggak?. Seru sopir tramco mengejutkan Nabila.
" aywa ya astho, syukron", ya, pak. Terima kasih.
Nabila bergegas turun dan menuju pintu gerbang kampusnya. Ia masih harus berjalan lima puluh meter untuk sampai ke pintu gerbang, diatas trotoar selebar jalan raya. Lalu lalang para mahasisiwi silih berganti, keluar masuk gerbang kuliah. Para pengemis pun bertambah dari hari biasa, berjajar disepanjang dinding pagar. Mereka sering memanfaatkan momen ujian untuk meminta sedekah. Karena mereka tahu, masa ujian adalah puncaknya gairah beramal bagi para mahasiswi. Mereka percaya, bukan hanya lembaran kertas jawaban, yang menentukan kelulusan. Namun ada faktor X dan Y, titik koordinasi antara manusia dan Tuhannya.
Nabila berjalan menaiki sebuah tangga digedung fakultasnya. Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Al Qur'an. Sesekali memberikan salam kepada setiap dosen yang kebetulan berpapasan dengannya.
Didalam ruangan ujian, ia kembali menelaah materi ujiannya, sambil menyiapkan segala keperluan ujian. Pena, penggaris, karneih -kartu ujian.
"Aduh maak!!! Karneih nya lupa. Paspor juga lupa. Nabila...mikirin apa aja semalam, semua jadi lupa".
Ia mempercepat langkahnya untuk segera keluar gedung, pulang ke asrama, dan mengambil kartu ujian. Masih ada waktu seperempat jam, harus bisa terkejar. Karena ujian tidak bisa diikuti jika tidak membawa identitas diri. Kecuali ada saksi. Minimal empat saksi yang harus menyatakan bahwa anak ini adalah mahasiswi disini dan mengikuti ujian di ruangan ini.
GRUDUGG. DAAR!!! Gemuruh di langit Kairo memberikan tanda akan turunnya hujan. Hujan terhitung langka di sini, namun sejak dua tahun terakhir, gerimis sesekali jatuh di kota ini. Nabila terus berlari setengah panik menuju halte. Barisan otobus dan tramco memenuhi depan halte, namun tak satupun yang menuju asrama tempat Nabila tinggal.
"Ya Robbi. Kasihanilah hambamu ini ", pekiknya dalam hati. Langit semakin gelap, awan hitam menjalar dari ujung timur ke barat. Semilir angin musim dingin menggigit tulang - tulang berselimut jaket lusuh yang disapu butir debu di kota Kairo. Bulir - bulir mutiara air yang terbawa angin membentuk goresan diagonal diatas jalan hitam. Hujan.
Air hujannya memang tak sederas hujan di Indonesia. Tapi sangat dingin. Setiap tetesnya membawa buliran debu yang terbang bebas di udara. Tak pelak, setiap pakaian yang terkena tetesannya, pasti membentuk bintik - bintik coklat perpaduan antara air dan debu padang pasir.
Nabila masih berdiri di halte. Sekian nomer telepon temannya yang diasrama dihubungi untuk dimintai pertolongan. Waktu masih sepuluh menit lagi. Tak satupun yang mengangkat telponnya, mendengarkan seruan Nabila meminta pertolongan. Semuanya tengah sibuk dengan mukorror , biasanya handphone dimatikan saat kondisi belajar.
Nabila tak punya pilihan. Ia harus mengambil alternatif sambung kendaraan, dengan menaiki bus jurusan mana saja yang menuju halte wilayah terdekat dengan asrama. Kemudian naik tramco dari wilayah tersebut menuju asrama.
Roda bus seakan begitu lambat jalannya. Berjejal dengan penumpang lain yang tak kebagian tempat duduk, adalah hal paling menyebalkan bagi Nabila. Matanya terus mengarah keluar jendela, seolah ikut memacu kecepatan minibus yang dinaikinya. Sesekali terdengar umpatan - umpatan orang Mesir tentang hujan yang membuat kotor jaket - jaket mahal mereka.
Sampailah Nabila di asrama. Karena lupa menaruh karneih nya dimana, seluruh rak buku di obrak abrik tanpa ampun. Selembar dua lembar buku dibolak baliknya, namun nihil hasilnya.
" Dimana karneih ku?!!!", Nabila menggerutu sendiri, sampai ingatannya pulih kembali.
" jaket hitam. Ya, di jaket hitam", barulah akhirnya ia teringat jaket hitam yang sempat ia gantung di kamar mandi dan lupa mengambilnya. Diliriknya jam tangan. Tiga menit lagi.
"Harus sampai. Harus sampai. Ya Allah, berikan aku kecepatan tinggi", dengan terburu - buru ia menuruni tangga di asrama. Sapaan petugas asrama pun tak digubrisnya. Kali ini ia harus naik taksi, agar lebih cepat sampai di kuliah. Ia tak lagi menghafal materi, hanya doa mohon dipercepat yang selalu dipanjatkan. Sekitar lima belas kilometer, jarak asrama dengan kuliah. Namun, sayang, jalanan macet. Dua orang paruh baya bertengkar ditengah jalan, lantaran tak terima mobilnya diserempet oleh yang satunya. Pihak satpol berusaha melerai mereka. Namun adu mulut seakan tak ada ujungnya. Masih macet.
Selama lima belas menit terjebak diantara deretan mobil - mobil kota. Suara klakson melengking berkali - kali memekikkan telinga. Terbayang dibenak Nabila, lembar soal dengan nomer satu sampai dengan lima. Setiap nomer memiliki anak a, b, c, d, dan e. Setiap anak memiliki karakter berbeda. Anak pertama, minta cerita. Anak kedua sebutkan sampai berapa, anak ketiga bagaimana pendapatmu, anak keempat berikan contoh yang sesuai, sedangkan anak kelima siapa saja tokoh dibaliknya. Ah, kenapa tak sampai juga.
Ia baru sadar, kalau sopir taksi mengambil jalur memutar menuju kuliahnya. Alih - alih cepat sampai, ia malah diajak jalan - jalan mengelilingi jantung kota. Sopir yang curang, mengambil jalur panjang, agar cargonya juga ikut panjang.
" ya astho, kenapa lewat jalur sini? Saya kan minta langsung kekuliah?", tanyanya gusar.
" iya, ini kekuliah. Bentar lagi sampai".
" saya tau jalur ini, saya tidak bodoh. Seperempat jam lagi baru akan sampai ke kuliah, itupun kalau tidak macet. Saya ini ujian, saya terburu - buru. Bapak malah ngajak saya muter - muter. Haram alaik, ya astho". Tidak boleh begitu dong pak.
" maalesy ya sity, sorry sorry, saya akan percepat mobilnya", sopir taksi itu meminta maaf.
Masih dengan menggerutu, Nabila terus berdoa agar diberi kemudahan. Tidak ada jalan pintas, jalur memutar tetap harus ditempuh.
Dua ratus meter lagi menuju pintu gerbang kuliyah. Roda depan mobil taksi bocor. Nabila memilih turun dan lari sekencang kencangnya. Dalam hatinya, ia berdoa, semoga masih diperbolehkan mengikuti ujian. Terlambat hampir satu jam.
"Assalamu alaikum", Nabila mulai memasuki ruangan.
"Waalaikum salam, aywa ya anisa", jawab pengawas ujian.
" maafkan saya, saya terlambat. Tadi saya sudah kesini, tapi lupa membawa karneih. Lalu saya pulang ke asrama, di perjalanan macet, jadi saya terlambat. Bolehkah saya mengikuti ujian?".
Kedua pengawas nampak berbisik - bisik mengisyaratkan sesuatu.
" sebaiknya kamu ke dekan fakultas. Minta izin sama beliau, ceritakan kronologimu, dan setelah mendapatkan izin, baru kesini lagi".
Aku tak pernah berharap seperti ini. Aku sangat payah. Payah.
Dengan langkah gontai, Nabila menemui dekan fakultas. Setelah mengucapkan salam, ia menceritakan seluruh kronologinya, dan nampaknya dekan fakultasnya memahami kondisi Nabila. Bersama dekan, Nabila berjalan menuju ruangan ujian. Nabila dipersilahkan duduk dan mengikuti ujian. Nabila pun tak henti - hentinya mengucapkan terima kasih pada ketiga orang itu. Lega.
***