24 Sep 2016

Dilema

Menjadi seorang perempuan terkadang membuatku serba salah, bahkan aku pernah berputus asa. Ditambah lagi, tanggung jawab sebagai anak sulung dari kedua saudaraku yang sama - sama perempuan, semakin terasa berat kupikul dipundakku. Berat karena aku belum mampu memenuhinya. Memenuhi harapan orang tuaku. Mereka berharap aku sebagai yang tertua harus bisa membantu adik - adikku.

Waktu itu aku sangat yakin, dan sangat optimis bahwa aku bisa. Aku bisa mewujudkan impian orang tuaku, terutama ayahku. Dia begitu bangga melihatku berhasil lolos seleksi mahasiswa baru dan masuk di salah satu universitas unggulan bertaraf internasional, yaitu universitas Al - Azhar, Cairo, Mesir. Waktu itu dibenakku, aku bisa menjadi orang hebat, menjadi pejabat, pegawai negeri seperti ayahku, atau paling tidak menjadi seorang guru.

Ayahku, selalu membekaliku dengan nasehat - nasehat yang terkadang aku tak mengerti.
"Niate di toto, Um", bunyi pesan ayahku dengan logat Jawa nya yang kental. Yang artinya aku harus menata niatku, serta meluruskannya. Menghindari segala hal yang merusak tatanan niat itu sendiri.

Pesan itu berkali - kali diucapkannya padaku, dan terakhir kali di bandara Soekarno Hatta, sewaktu melepas keberangkatanku ke negeri Fir'aun. Tentu saja, pesan itu terdengar biasa saja ditelingaku. Karena bagiku, jauh sebelum mengikuti proses ujian, aku sudah menakar dan mematangkan niat dihatiku. Sebelum akhirnya, ternyata Sang Maha Kuasa menghendaki skenario baru yang sama sekali tak kuduga.

Ada yang tertinggal di bandara. Rupanya, aku melupakan sesuatu. Aku lupa bagaimana perasaan ayahku ketika menyampaikan pesan itu. Aku lupa bagaimana raut mukanya ketika melepaskan jabatan tanganku. Aku hanya ingat ibuku, yang tak bisa menahan luapan air mata, sambil menatapku dari luar ruangan only passanger, khusus penumpang.

Ayah memang berbeda dengan seorang ibu dalam memberikan kasih sayangnya. Meskipun tinggal beberapa menit kebersamaan kami, tak setitik pun air mata keluar dari pelupuk matanya. Malah, ia terlihat tegar, dan bersahaja. Sepertinya, ia ingin aku menangkap sinyal - sinyal semangat berjuang darinya. Tanpa harus diungkapkan dengan kata. Aku hanya melihatnya menatapku dengan kedua tangan yang menempel di dinding kaca. Guratan senyum dan sesekali anggukannya menyuruhku agar terus melangkah dan jangan menoleh kebelakang.

Sementara ibuku hanya melambaikan tangannya, seraya meneriakkan kata 'hati - hati' yang sama sekali tak terdengar olehku. Hanya gerak mulutnya seperti berkata demikian.
***
Sampai dua tahun aku di Cairo, ayahku masih saja mengingatkan pesan itu. Meski bosan mendengarnya, aku tetap mengiyakan. Sampai aku mengutarakan isi hatiku padanya, bahwa aku ingin menikah, aku mendengar suaranya yang lemah, layaknya orang yang dilanda penuh keputus asaan. Padahal, aku hanya ingin menikah, bukan ingin berhenti belajar. Namun tetap saja ayahku sulit memutuskan.
" kenapa tak kau tahan dulu sampai lulus s1, itu kan niatmu pertama kali".
Ternyata pesan 'noto niat ' itu begitu dalam. Nada getir dan sedikit khawatir ketika ia mengucapkannya, tak sempat kuhiraukan sewaktu di bandara. Ayahku pasti kecewa denganku. Mungkin, ia merasa harapannya telah kandas.

Sikapku dan calon suamiku yang masih tetap bersikukuh untuk menikah, akhirnya direstui kedua orang tua kami. Entah dengan berat hati atau tidak. Namun, di dalam diam aku mendengar bisikan hatinya yang lembut, mungkin inilah yang disebut telepati.
" puteriku, demi keselamatanmu, aku korbankan impianku".
"Oh, ayah, kau memang selalu berkorban untukku. Kelembutanmu selalu membuatku haru. Kenapa tak marah saja padaku, ayah?", batinku merajuk sendiri.
Pernikahan yang teramat singkat dan padat, tanpa suka cita keramaian atau semacam pesta, telah menyatukan cinta kami. Hanya

Selama hampir sembilan tahun, keluarga kecilku tinggal, dan bahagia di Kairo. Satu orang putera, dan seorang putri telah menghiasi rumah kami. Yang satunya lagi masih dalam kandungan. Yang akhirnya kubawa pulang ke negeri ini dalam usia enam bulan dalam kandungan. Aku masih ingat betapa orang tuaku sekaligus mertuaku terlihat resah menyaksikanku, mengandung enam bulan, anak pertama baru dua tahun, anak kedua baru satu tahun.

Baru setelah kelahiran anakku yang ketiga, mereka sedikit lega. Beberapa anjuran dan masukan mulai ditujukan padaku. Ibuku menyuruhku agar ikut mengabdi di sekolah, ayahku pun begitu. Katanya agar aku segera mengamalkan ilmuku. Disamping itu, ayahku pernah mengungkapkan bahwa menjadi seorang guru itu banyak manfaat, selain mengamalkan ilmu, kehormatan juga didapat, uang juga mengalir meski tak sederas aliran air terjun. Kalau ujung - ujungnya uang, kenapa tak menjadi tkw saja dulu?, tanyaku dalam diam.
"Lalu bagaimana anak- anakku?", pernah kutanyakan hal itu pada mereka.
" biarlah kakek neneknya yang mengasuh, lagi pula pekerjaan seorang guru tidak sepanjang hari".
Aku tak pernah memikirkan hal itu. Mertuaku memang tidak keberatan mengasuh cucunya, malah terlihat sangat senang dan bahagia. Meski sudah sangat tua, mudah lelah, dan mudah sakit - sakitan, mereka tak mau mengakuinya. Tapi realita tak bisa berbohong.
Aku tak bisa menuruti permintaan orang tuaku. Mengasuh tiga orang balita bukanlah pekerjaan mudah, apalagi untuk orang yang sudah tua. Aku tetap akan mengasuh anakku, karena saat inilah aku tidak boleh melalaikan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.
"Ayahmu sudah banting tulang mendidik dan menyekolahkanmu sampai setinggi itu, agar kau bisa sukses. Menjadi orang hebat, orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Rasanya sia - sia ayahmu bekerja. Sia - sia ayahmu berharap memiliki anak yang bisa melanjutkan perjuangannya".
Aku ingin menangis sekeras - kerasnya ketika ibuku melayangkan sms itu di ponsel kecilku. Apakah aku sudah menjadi anak durhaka? Apakah aku sudah menyakiti hati orang tuaku? Aku tak bisa menjawabnya. Sekali lagi, menjadi perempuan terkadang membuatku dilema.

Rupanya, Sang Maha Kuasa telah menentukan takdirnya. Melihat keadaanku yang tak berdaya, menjadi anak salah, menjadi ibu juga salah. Akhirnya suamiku membawaku merantau ke pulau seberang. Dan sudah bisa ditebak bagaimana reaksi kedua orang tuaku.
"Dari lulus sd sampai perguruan tinggi, Umi selalu di pesantren, kuliah di Mesir, kemudian menikah dengan orang jauh dan sekarang? Akan dijauhkan lagi?".

Lagi - lagi ayahku menanyakan perihal niat kepadaku atas kepergianku.
" untuk mencari pengalaman. Di Jawa kami masih belum menemukan jalan rezeki kami. Siapa tahu Allah membukakannya disana".
" kenapa bukan suamimu saja yang pergi, kamu tetap disini?", tanya ayahku memberi pilihan.
"Maafkan aku, ayahku. Aku tak bisa jauh dari suamiku".
Maafkan anakmu, sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa jauh dari suami sama halnya jauh dari ladang amalku. Ayah tentu mengerti, setelah menjadi seorang istri, aku tak boleh lepas dari tanggung jawabku. Di pesantren aku selalu diajarkan berbagai hak dan kewajiban seorang istri terhadap suaminya. Setelah mengetahuinya, apakah aku lantas mengacuhkan tanggung jawabku?. Semoga ayahku mengerti.

Suamiku lah yang berkali - kali menjelaskan pada ayahku, sampai akhirnya mereka pun harus merelakan kepergianku untuk kesekian kalinya. Aku pun selalu berdoa agar kita dipertemukan kembali, suatu saat nanti.
***
Diperantauan, kami tidak serta merta terbebas dari tuntutan. Setiap kali menelpon, mereka selalu menanyakan pekerjaan. Lagi -  lagi mereka harus kecewa karena aku hanya menjadi seorang ibu untuk anak - anakku. Suamiku berjualan kerupuk yang di setorkan ke warung - warung kecil di sekitar kediaman kami. Dan dua kali seminggu mengajar di musholla. Kami sama - sama belajar di universitas Al - Azhar, namun suamiku merelakan ijasahnya demi aku. Ia bekerja mencukupi kebutuhan keluarga, sampai akhirnya kami pulang ke Indonesia. Karena itulah, sampai kapan pun suamiku ingin membuktikan bahwa tanpa ijasah kita mampu mengamalkan ilmu, mengajar yang membutuhkan, menjadi insan yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

"Kau sibuk apa, Um jauh - jauh kesana?", tanya ibuku dalam telponnya.
Jawabanku masih sama, "sibuk ngurus anak - anak, buk".
"Cobalah, cari lowongan mengajar, di TK atau SD kan bisa, mengajar sambil membawa anak nggak apa - apa".
"Iya buk, nanti kalau ada".
Selalu sederhana, jawaban - jawaban yang aku ungkapkan pada orang yang ku kasihi itu. Ia teramat sayang, dan terlalu mencintaiku. Ia senantiasa ingin melihat puterinya segera hidup mapan, dan memiliki pekerjaan tetap. Namun sayangnya, aku masih sama. Aku masih harus menjadi madrasah utama bagi anak - anakku. Maafkan aku, ibu. Aku hanya ingin kau tahu, ini hanya masalah rezeki. Allah belum berkenan membukakan kran rezekiku. Mungkin, nanti setelah aku lulus ujian. Ujian sebagai seorang hamba yang masih miskin, yaitu sabar.
Aku bukan tak ingin menjadi guru. Menjadi guru itu tugas mulia, oleh karenanya, suatu saat nanti, kalau aku menjadi guru, aku tak ingin mengotori niatku dengan keinginan nafsuku.
***
Disaat gundah, terkadang sebuah pertanyaan konyol begitu saja meluncur dari mulutku, "kalau laki - laki bisa mengamalkan ilmunya, belajar sekaligus mengajar pada yang lain. Berdakwah, mengajak pada kebaikan. Kalau perempuan? Memasak, mencuci, ngurus anak".
"Anak - anakmu lah ladang amalmu, buk. Anak - anakmu lah ladang dakwahmu. Salah satu tugas terpenting perempuan disamping taat pada suami adalah menciptakan generasi unggul, barakhlak mulia, taat pada agama, dan berguna bagi nusa dan bangsa", kata suamiku yang memang selalu bijak untuk menjawab semua pertanyaanku.
"Memang benar, regenerasi sudah menjadi tugas fitrah seorang perempuan. Tapi tanggung jawabku pada orang tuaku, balas budiku pada mereka? Apa?".
"Kita memang tidak akan mampu membalas jasa - jasa mereka selain dengan mendoakan mereka. Jadi kita harus berjuang agar amal - amal mereka tidak putus nantinya".
Seringkali air mataku tak dapat ku tahan, ketika menemani anak - anakku sedang belajar. Dalam hatiku, aku berpesan, " belajarlah nak, belajarlah sungguh - sungguh. Karena belajar itu kewajiban. Karena belajar akan menjauhkanmu dari kebodohan, kekolotan, bahkan kemusyrikan. Belajarlah bukan untuk menjadi apa atau siapa, belajarlah bukan untuk mencari uang atau kehormatan. Allah yang akan menjadikanmu terhormat, Allah yang akan mengkalkulasikan keuanganmu jika kau tawakkal padanya".

Setelah itu, aku sadar sesadar - sadarnya, bahwa menjadi perempuan bukan hal yang untuk disesalkan. Perempuan wajib belajar, perempuan harus menjadi hebat, untuk melahirkan generasi - generasi hebat.
Ayahku, ibuku, kalian tidak sia - sia mendidikku. Aku teramat mencintai kalian. Urusan harta, kehormatan, dan duniawi lainnya biarlah Allah yang mengatur segalanya.

Comments
0 Comments